Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2017

Hamka Muda Itu Bernama Ustad Abdul Somad

Tulisan sederhana ini bukan bermaksud membanding-bandingkan, melebihkan yang satu mengurangi yang lain, memuji-muji dan mengangkat yang satu merendahkan yang lain. Antara pribadi Buya Hamka (1908-1981) dengan seorang ustad yang sekarang sedang naik daun di dunia youtube, bernama Ustad Abdul Somad (selanjutnya ditulis UAS). Melainkan hendak menampilkan nilai-nilai apa saja yang bisa kita petik dari kepribadian kedua alim tersebut, untuk dijadikan teladan bagi umat.


Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), meraih gelar Dr HC (doktor honoris causa) atas pemberian universitas Islam tertua di dunia, Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Berasal dari keluarga ulama pula, bahkan ayahnya pun mendapatkan gelar Dr HC dari universitas yang sama. Ayah dan anak yang sama-sama meraih gelar kehormatan dari kampus Islam ternama. Sehingga ayah Hamka yang bernama Abdul Karim Amrullah, oleh masyarakat kampungnya di Maninjau-Agam, dipanggil dengan sebutan “Inyiak Deer” (lebih lanjut baca buku “Ayahku” karya Hamka, 1982).

Pribadi Hamka adalah seorang ulama cum sastrawan dan politisi, sudah menjadi sosok panutan umat Islam di zamannya. Tak hanya di Indonesia, nama besar beliau menggema di Asia Tenggara. Bahkan mantan perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak kala meninggalnya Buya Hamka mengatakan, “Hamka tidak hanya milik bangsa Indonesia, tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.”

Buya Hamka telah menunjukkan kemampuan menulisnya sejak usia 17 tahun. Sejak itu sampai Buya meninggal, beliau sudah menulis 118 buku; bertemakan agama, sejarah, novel, biografi, adat Minangkabau, politik, ideologi, negara, filsafat dan tafsir Alquran yang berjilid-jilid (Rusydi Hamka, 2017). Sungguh ini bentuk produktivitas yang luar biasa, di tengah mesin cetak, perangkat penerbitan dan mesin ketik belum secanggih dan sebanyak zaman kini.

Lebih mengagumkan lagi, Buya adalah sosok otodidak dalam proses perkembangan intelektualnya yang multidisplin dan unik. Otodidak dalam artian, beliau tidak pernah duduk di bangku sekolah formal sampai jenjang universitas (Irfan Hamka, 2013). Bahkan SD pun hanya dialaminya selama 3 tahun, lalu berhenti.

Walaupun untuk pengetahuan agama, modal dasar dari ayahnya, seorang ulama pembaharu Islam di Indonesia dan pendiri Sumatera Thawalib (lebih lanjut lihat “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942”, Deliar Noer, 1982) sudah cukup kiranya sebagai pijakan dasar dalam memahami khazanah keilmuan Islam.

Hamka kemudian dikenal dengan sikapnya yang gigih, tegas dan lurus dalam berprinsip. Ketika menjabat sebagai ketua umum MUI pusat pertama tahun 1975-1981, Hamka dengan tegas mengeluarkan fatwa terkait pelarangan (haram) perayaan Natal bersama di masyarakat. Tentulah fatwa ini menimbulkan gejolak, khususnya bagi pemerintah.

Tapi, Hamka tetaplah Hamka, yang tegak punggungnya, berpijak pada prinsip yang lurus dan tak bisa dibeli. Sebagai seorang ulama, beliau sering berpetuah, “Menjadi ulama itu seperti kue bika, dipanggang dari atas (intervensi/kemauan pemerintah-red), dipanggang dari bawah (aspirasi umat-red).” Prinsip lurusnya Buya tadi dibuktikan dengan pengunduran dirinya sebagai ketua umum MUI pusat, karena perbedaan pandangan dengan pemerintah Soeharto.

Setiap hari setelah shalat Subuh berjamaah, Buya selalu memberikan kuliah Subuh di depan para jamaahnya, yang memadati Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru. Seperti yang diungkapkan wartawan senior Rosihan Anwar (1922-2011). “...Di samping itu, pengajian dan kuliah Subuh berkembang di berbagai masjid. Akan tetapi, agaknya kuliah Subuh yang paling mendapat minat, ialah yang dipimpin oleh Hamka sendiri di Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru. Tafsiran Alquran yang diberikannya di kuliah Subuh itu memperoleh pendengar yang banyak...” (Rusydi Hamka, hal. 181).

Jamaah selalu memadati pengajian kuliah Subuh tersebut. Model ceramahnya sangat klasik. Diawali ceramah, selepas itu para jamaah diberikan kesempatan bertanya, baik secara langsung maupun melalui kertas yang sudah ditulis pertanyaan. Mendengar ceramahnya, kita akan mudah ingat karena bahasa dan logat Buya yang khas, suaranya yang agak parau, ditambah dengan seringnya Buya mengutip pepatah-petitih tradisional Minang (Melayu), jika hendak menerangkan sebuah perkara.

Ditambah lagi, wawasan keilmuan Islam yang dalam, Buya memang mampu membuat suatu soalan menjadi terlihat mudah, tapi bukan untuk menyepelekan. Ketika menjawab perihal hukum fiqh yang tinggi tingkat khilafiyahnya, Buya menerangkan ragam kalam ulama, seraya tak lupa mengutip ayat Quran dan Hadist. Buya adalah sosok yang sangat toleran terhadap perbedaan fiqh, masalah-masalah furu’iyah.

Kisah yang cukup dikenal masyarakat adalah, di saat Buya bertamu ke kediaman ulama Betawi KH Abdullah Syafii di daerah Tebet Jakarta Selatan. Kala itu Buya diminta menjadi imam shalat Subuh oleh sohibul bait, Buya lantas maju menjadi imam. KH Abdullah Syafii berkeyakinan qunut Subuh hukumnya sunah ab’ad dalam Madzhab Syafii, hukumnya seperti duduk tahiyat awal ketika salat Zuhur/Ashar/Maghrib/Isya.

Sebagai tokoh Muhammadiyah yang berkeyakinan tidak ada qunut Subuh, namun dengan senang hati Buya melakukan qunut Subuh demi menghormati sang tuan rumah. Buya menghormati orang yang berbeda prinsip fiqh dengan dirinya, bukan dengan cerita, tetapi melalui tindakan nyata.

Begitu pula ketika K. Abdullah Syafii bertamu ke Buya di Masjid Al-Azhar pada suatu Jumat. Ketika hendak khutbah, Buya mempersilakan kiai gaek ini menjadi katib Jumat, padahal jadwal katib sebenarnya adalah Buya sendiri. Bahkan, Buya meminta muadzin untuk azan Jumat sebanyak 2 kali, sebagaimana tradisi fiqh ulama-ulama madzhab Syafii. Semua itu Buya lakukan karena menghargai perbedaan madzhab fiqh, perbedaan yang sifatnya furuiyah belaka, bukan prinsip (ushul) baginya.

Begitulah wajah toleransi Buya terhadap perbedaan khilafiyah. Sebab baginya, persatuan umat lebih penting dan mendesak ketimbang memperlebar jurang perbedaan fiqh. Bahkan terhadap “musuh” politiknya sendiri Buya Hamka memperlakukannya dengan kasih sayang. Singkat cerita, Muhammad Yamin adalah sosok tokoh nasional yang sangat membenci Buya Hamka, karena Buya yang Masyumi dianggap mendukung (terlibat) pemberontakan PRRI di Sumatera Tengah.

Tapi, ketika Yamin sedang sakit-sakitan hendak meninggal, dia berpesan pada Chaerul Saleh agar Hamka didatangkan ke hadapannya. Dia hendak meminta maaf. Setelah Hamka datang, Yamin pun meminta maaf, sambil memegang erat tangan Buya. Sambil keduanya berurai air mata, Buya memaafkan segala kesalahan Yamin itu.
Dalam wasiatnya, Yamin meminta agar Hamka membantu proses pemakamannya di Nagari Talawi Solok, kampungnya. Dia khawatir sebab orang kampung membencinya, dikarenakan Yamin sedari dulu anti (memusuhi) PRRI dan Masyumi.

Begitu pula ketika Soekarno hendak meninggal, dia meminta agar Buya yang mengimami shalat jenazah jika dia meninggal kelak. Wasiat inipun dipenuhi Buya dengan ikhlas karena Allah. Padahal, Hamka dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama 2 tahun lebih oleh rezim Soekarno. Bahkan di penjara yang berpindah-pindah itu Buya mengalami penyiksaan. Tapi, tidak ada dendam kesumat sedikitpun, benar-benar luas hatinya (lihat “Pribadi dan Martabat Buya Hamka”, Rusydi Hamka, 2017).




Sekarang kita berlanjut kepada figur Ustad Abdul Somad (lebih lanjut ditulis UAS). UAS adalah sosok ustad yang saat ini sedang memuncak pamornya, khususnya bagi netizen yang akrab dengan media sosial seperti youtube, facebook (fb) dan instagram.

UAS adalah seorang sarjana lulusan S-1 Universitas Al-Azhar dan S-2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko. Pria campuran Melayu Deli dan Riau, saat ini, tinggal di Pekanbaru dan berprofesi sebagai dosen PNS di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Publik mungkin menilai, terlalu prematur untuk menyandingkan Hamka dan Abdul Somad. Tapi bagi saya, taklah berlebihan jika mengatakan Hamka dan UAS sama-sama menjadi panutan umat. Mengajarkan umat untuk menghargai perbedaan, toleran, ulama yang lurus, tegas dan merangkul semua kelompok Islam. Mereka mengajarkan kita semua nilai itu.

Di era teknologi informasi yang makin canggih, pemanfaatan media sosial internet menjadi keniscayaan. Puncak gelombang peradaban umat manusia dengan hadirnya abad informasi di abad 21, demikian yang ditulis futurolog Alvin Toffler (lihat “Future Shock”, Alvin Toffler, 1970).

Produksi, distribusi, penggunaan sampai pada perekayasaan konten media informasi adalah wajah peradaban manusia modern sekarang. Otomatis pemanfaatan media sosial sebagai sarana efektif dalam berdakwah adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan dakwah modern, di era informasi-komunikasi kepada masyarakat yang cakap juga dalam menggunakannya, yang disebut netizen.

Terkenalnya UAS satu tahun terakhir ini, adalah fenomena dakwah Islam yang sebenarnya bukan hal yang baru. Sederetan nama-nama ustad (dai/mubalig) kondang, yang sudah lama terkenal jauh sebelum UAS juga pernah terjadi.

Mulai dari yang senior seperti KH. Zainuddin MZ, KH. Anwar Sanusi dan Aa Gym sampai kepada Habib Rizieq, Habib Munzir Al Musawwa, Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansur, Ustad Jefri Al Bukhori, Ustad Wijayanto, Mamah Dedeh, Ustad Solmed sampai pada Ustad Maulana. Umumnya mereka dikenal melalui media tv nasional.

Beberapa nama dai di atas bisa dikategorikan sebagai “ustad seleb”, yaitu para mubalig yang dikenal publik berdakwah melalui media tv, sering muncul di tv, memiliki acara khusus di sebuah stasiun tv, bahkan ramai pemberitaan dirinya (keluarga) di acara-acara infotainment misalnya (lihat “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online”, Greg Fealy dkk, 2012).

Uniknya kemunculan UAS sampai saat ini bukan karena infotainment, bukan dari media tv melainkan dari media sosial. Berbagai ceramah UAS bisa diakses oleh publik melalui youtube dan fb.

Pertanyaan kemudian adalah, “Apa penyebab sehingga dakwah-dakwah UAS selalu dinikmati, ditunggu-tunggu bahkan dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, di setiap beliau berdakwah? Apa gerangan yang menjadi magnet penarik, keunikan, sehingga jamaah sampai ke angka 13 ribu viewers lebih menonton secara live streaming, di setiap ceramah UAS melalui fb?

Bahkan dalam ceramah-caramahnya, UAS sering menyampaikan pada jamaah bahwa jadwal “manggung” ceramah beliau sudah full sampai Desember 2018, baik di level lokal, nasional maupun internasional. Sebagai penceramah yang tak lahir dari produk infotainment dan entertainment tv, tentu  ini adalah fenomena yang menakjubkan dan unik.

Dikenal melalui youtube yang videonya dishare oleh jamaah. Bukan karena berita gosip infotainment media tentang dirinya, tetapi lebih karena luas dan dalamnya pemahaman keislaman UAS. Dikenal bukan karena skenario tv/rekayasa media mainstream, melainkann karena kehendak masyarakat Islam, yang selalu membagi video-video ceramahnya secara online.

UAS hadir pada saat yang tepat, di tengah ghiroh umat Islam yang haus ilmu agama, pengetahuan tentang syariat Islam. Ditambah menguatnya dakwah-dakwah dari sekelompok ustad yang mengidentifikasikan diri/kelompoknya dengan sebutan “Salafi”, yang terkadang isi ceramahnya cenderung memperlebar jurang khilafiyah di tengah keragaman umat dalam praktik ibadah (fiqh). Bahkan acap kali ustad-ustad tersebut dengan berani tanpa tedeng aling-aling, langsung melabeli bid’ah setiap praktik peribadatan muslim Indonesia, yang sudah mentradisi.

Tentu model dan gaya dakwah seperti di atas akan lebih mudah membuat umat terpecah-belah. Padahal sebagai muslim diwajibkan oleh Allah untuk menjaga persatuan dan berpegang teguh pada tali Allah, jangan bercerai-berai. Fenomena dakwah yang serupa ini juga berpotensi melahirkan konflik horizontal di internal Islam sendiri. UAS tampil sebagai antitesis model dan gaya dakwah yang serba menyalahkan dan membid’ahkan tersebut.

Tampilan dakwah yang berisi, luasnya wawasan perbandingan madzhab beliau (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali), penuh dengan guyonan cerdas ditambah logat Melayu yang khas. Menerangkan suatu perkara agama secara tegas, jelas, berdasar dalil dan selalu disisipi humor. Sehingga jamaah pun terhibur, tapi ilmunya tetap didapat.


UAS juga selalu memberikan pilihan kepada jamaah, dalam suatu perkara ibadah yang domainnya ilmu fiqh misalnya, seperti masalah qunut Subuh. UAS dengan terbuka dan gamblang memberikan pandangan tiap-tiap madzhab ulama akan hukum qunut Subuh itu. “Jangan berkelahi hanya masalah khilafiyah!”, demikian nasihat UAS yang acap kali disampaikan.

Urusan produktivitas kepenulisan, UAS sudah menulis buku-buku; “37 Masalah Populer” (2014), “99 Tanya Jawab Seputar Shalat” (2013), “33 Tanya Jawab Seputar Qurban” (2009), dan “30 Fatwa Seputar Ramadhan-terjemahan” (2011). Semua buku karya UAS tersebut bisa diakses secara gratis, baik di internet (ebook-pdf) maupun melalui aplikasi appstore/playstore. Sangat mengagumkan, UAS mempermudah umat belajar Islam secara praktis dan efektif.

Makanya taklah heran, banyak jamaah yang berujar jika UAS adalah Hamka zaman sekarang. Sebab, UAS mengedepankan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan madzhab, menjunjung tinggi persatuan umat dan selalu menekankan agar umat Islam Indonesia melek politik dan berdikari dalam ekonomi. UAS selalu menyuarakan Islam dan politik tak bisa dipisahkan.

Mayoritas umat Islam di Indonesia secara ekonomi adalah kelas menengah ke bawah. Baginya perekonomian umat adalah mutlak tanggung jawab bersama umat Islam. Makanya UAS mengingatkan tentang pemberdayaan perekonomian umat dengan membangun dan mengembangkan sistem ekonomi syariah, hidupkan bank-bank syariah.

Momentum “persatuan umat” dengan aksi damai 411, 212 dan seterusnya, juga berpengaruh terhadap kesadaran umat akan politik. Ini berdampak terhadap popularitas UAS. Baginya syariat Islam hanya akan berjalan dengan baik, jika umat Islam sadar politik, cerdas dalam berpolitik. Satu-satunya jalan agar syariat Islam bisa diimplementasikan di Indonesia yang demokratis ini adalah melalui kekuasaan.

Makanya, bagi beliau pilihlah calon-calon pemimpin, kepala daerah dan legisltaif yang tidak alergi terhadap aspirasi umat. 3 (tiga) poin utama sebagai fokus politik Islam (khususnya di daerah melalui Peraturan Daerah) baginya adalah: 1) integrasikan mata pelajaran bercirikan Islam di sekolah umum (ilmu fiqh, tarikh, aqidah dan lainnya), 2) kepala daerah membuat aturan tentang zakat di daerahnya dan 3) kepala daerah diminta membuat Perda-perda yang bernuansa Islam.

Baginya semua cita-cita politik Islam tersebut, hanya bisa dicapai jika umat Islam yang berkuasa. Tapi jalan untuk mencapainya harus dengan cara-cara demokratis dan konstitusional sesuai hukum, tidak menggunakan kekerasan katanya.

Jadi taklah berlebihan, jika respons umat Islam akan kehadiran dakwah UAS saat ini sangat antusias. Hamka muda telah lahir, walaupun keduanya memiliki perbedaan. Hamka pernah menjadi pengurus Muhammadiyah, sedangkan Ustad Abdul Somad pernah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (Lembaga Bahtsul Masail) PWNU Riau.

UAS bergaul dengan kelompok Islam manapun seperti Muhammadiyah, Jamaah Tabligh, Tarbiyah, Perti, Persis, Salafi bahkan FPI, MMI dan HTI yang sudah dibubarkan pemerintah saat ini. UAS juga bercerita, pernah menjadi pengurus masjid Muhammadiyah di Pekanbaru selama 2 tahun. Padahal secara madzhab fiqh, dirinya berbeda dari saudara-saudara di Muhammadiyah. Tiap kali diminta menjadi imam di masjid Muhammadiyah tersebut, dengan rendah hati UAS selalu menolaknya. Dia memilih untuk menjadi makmum saja, karena menghormati jamaah Muhammadiyah.

UAS pun sering mengutip dan menceritakan kisah heroisme dan keulamaan Hamka dalam ceramahnya. UAS mengatakan, dia mengidolakan sosok Hamka, seorang ulama pejuang. Banyak kemiripan keduanya. Sama-sama memperoleh gelar dari Al-Azhar Kairo, dan produktif menulis.

Memiliki kemiripan dalam berceramah, bergaya khas, logat Melayu yang kental, suka berpepatah-petitih Melayu (Minangkabau), suara yang parau dan ceramah yang selalui diikuti oleh tanya jawab memakai media kertas yang tumpukannya melebihi tebalnya skripsi. Jamaahnya berduyun-duyun, selalu memadati masjid saat mendengar dakwahnya. Itulah beberapa kemiripan Buya dan UAS.

Terpenting adalah Hamka dan UAS sama-sama mengajarkan kita umat Islam, tentang indahnya perbedaan, pentingnya menjaga persatuan umat, kesadaran politik bernegara dan paling utama adalah tidak menonjolkan khilafiyah.
Persatuan umat yang mesti dikedepankan. Hamka dan Ustad Abdul Somad membuktikannya dengan tindakan. Ini mendesak dilakukan, karena jika umat terus berkonflik karena urusan khilafiyah, maka persatuan umat Islam hanya akan tinggal utopia belaka.

Semoga Allah senantiasa meridhoi almarhum Buya Hamka dan memberikan kemudahan dalam berdakwah bagi Ustad Abdul Somad, Sang Hamka Muda...!

Oleh: Satriwan Salim  Pengajar Labschool Jakarta-UNJ/Peneliti PUSPOL Indonesia, dalam tulisan berjudul "Buya Hamka Dulu, Ustaz Abdul Somad Sekarang" di situs Republika.co.id

Kamis, 09 November 2017

Momen Haru Saat Ayah Korban Maafkan dan Peluk Pembunuh Anaknya

Ayah dari seorang supir Muslim pengantar pizza yang jadi korban pembunuhan, mengampuni dan memeluk pelaku yang dijatuhi hukuman penjara karena berperan dalam kematian anaknya.

Pada persidangan yang dilaksanakan di pengadilan Lexington, Kentucky, AS pada Selasa 7 November 2017 kemarin, Ayah korban, Dr. Abdul Munim Sombat Jitmoud memeluk terpidana, Trey Alexander Relford, yang menangis menyesali perbuatannya.


Sang ayah mengatakan, ia memaafkan Trey karena mengikuti ajaran Islam. "Islam mengajarkan bahwa Tuhan takkan memaafkan seseorang sebelum orang tersebut mendapatkan maaf dari orang yang disakitinya," kata Abdul Munim di depan sidang. "Pintu kesempatan untuk mendapat pengampunan dari Tuhan telah terbuka... Jadi, dapatkanlah pengapunanNya. Kamu telah memiliki babak baru untuk bisa hidup lebih baik."

Pada malam bulan April 2015, Salahuddin Jitmoud sedang mengantarkan pesanan pizza terakhir sebagai supir Pizza Hut. Naas, ia dirampok dan ditikam hingga tewas di sebuah kompleks apartemen di Lexington, Kentucky. Tubuhnya ditemukan terkapar di pelataran kompleks.

Tiga orang ditahan, tapi sidang hanya memvonis Relford. Ia terbukti sebagai perencana perampokan walau menolak membunuh Salahuddin.

Relford akhirnya divonis 31 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, dan bukti yang menunjukkan bahwa ialah yang menikam Salahuddin.


Ayah Salahuddin mengatakan bahwa ia telah memaafkan Relford.

"Anakku, keponakanku, aku memaafkanmu atas nama Salahuddin dan ibundanya."

"Saya tidak menyalahkanmu atas kejahatan yang telah kau lakukan, saya tidak marah kepadamu telah menjadi bagian dari yang menyakiti putra saya." 

"Saya marah pada Iblis, saya salahkan Iblis, yang menyesatkan kamu dan membuat kamu melakukan kejahatan mengerikan ini." 

"Saya sungguh merasa iba pada orangtua kamu, mereka membesarkan kamu dan ingin kamu menjadi sukses. Kesuksesan kamu adalah kesuksesan mereka, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan mereka." 

"Sekarang mereka harus menangis akibat kejahatan mengerikan (pembunuhan) yang telah kamu lakukan."

"Pemaafan dan pengampunan adalah anugerah terbesar dalam Islam. Saya harus mengeluarkan semua perasaan saya untuk memaafkan orang yang telah menjahati keluarga saya."

Hakim tampak terisak saat menutup sidang, sementara dengan menangis si pembunuh meminta maaf atas perbuatannya. Diiringi tangis ibu pelaku, Relford kemudian dipeluk erat oleh Abdul Munim. Sang ayah korban lalu berbisik di telinga Relford, "Setelah nanti keluar dari penjara, berbuat baiklah".

Sumber: CNN

Rabu, 08 November 2017

Di Masa Kejayaan Kerajaan Islam, Burung-burung Punya Istana Sendiri

Kerajaan Ottoman merupakan kerajaan Islam terbesar dan terpanjang dalam sejarah dunia. Berdiri pada tahun 1299, kerajaan ini bertahan hingga 600 tahun kedepan. Pada 1453, Ottoman bahkan mampu menaklukkan Konstantinopel, ibukota kekaisaran Byzantium dan menggantinya menjadi Istanbul.

Hingga hari ini, jejak kerajaan Islam tersebut masih dapat dilihat lewat peninggalan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur megah. Yang tak kalah menarik, elemen penting pada jejak peninggalan arsitektur kerajaan Ottoman di Turki adalah adanya istana burung sebagai bangunan tambahan yang menempel di dinding luar berbagai struktur kota.


Sarang burung yang menempel di berbagai Masjid, penginapan, perpustakaan, sekolah dan air mancur tersebut bukanlah bangunan dengan struktur beton sederhana. Ia merupakan sebuah miniatur istana mulai dari satu lantai hingga bangunan bertingkat tiga dengan ornamen rumit yang indah.

Masing-masing dirancang dengan estetika desain serupa dengan bagunan-bangunan besar di kerajaan, sekaligus menyediakan tempat berteduh bagi burung pipit, burung layang-layang, dan burung merpati sambil mencegah kotoran burung merusak dinding-dinding bangunan sekitarnya.



Selain sebagai sangkar burung, istana burung juga memiliki pandangan keagamaan. Mereka beranggapan, dengan dibuatkan sarang mungil yang bagus, burung-burung tersebut pun akan membalasnya dengan perbuatan baik juga.


Dengan perhataian dan perawatan, bangunan tersebut mendorong kecintaan pada hewan di masyarakat Turki, warga bahkan mengadopsi beberapa julukan untuk rumah tersebut selama bertahun-tahun termasuk memakai istilah seperti "kuş köşkü" (paviliun burung), "güvercinlik" (sarang merpati) dan "serce saray" (istana burung gereja).



Saat ini, hanya tinggal beberapa saja dari istana-istana burung yang tersisa. Meski begitu, istana mungil tersebut telah mengakar dalam sejarah Turki. Hampir di setiap kota di negara Turki memiliki istana burung, contoh tertua adalah sebuah sarang yang dibangun di abad ke-16 yang menempel di jembatan Büyükçekmece di Istanbul, hingga hari ini masih utuh terjaga.


Minggu, 29 Oktober 2017

Seuntai Nasihat Untukmu Wanita

Engkau, wahai wanita, adalah anugerah yang diciptakan oleh Allah dengan sangat istimewa. Engkaulah yang membuat kami para pria merasa damai karena engkau selalu menemani. Engkaulah yang membuat anak-anak kita menjadi anak yang berbudi pekerti mulia dan berangsur-angsur tumbuh menjadi manusia sholeh dan sholeha.

Engkaulah yang berperan penting untuk menentukan baik buruk suami dan anak-anak kita. Bahkan lewat tangan lembut Andalah kami semua menjadi manusia berarti.


Kami para lelaki tidak perlu lagi mengajari apa yang harus Anda jalani, namun tak salah bila kami mengingatkan bahwa inilah kelebihan Anda yang akan selalu kami, para lelaki, kagumi.

Jadilah wanita yang penyayang dan lembut dan janganlah menjadi wanita yang kasar dan keras.

Jadilah wanita yang berwajah berseri dan selalu tersenyum dan janganlah menjadi wanita yang bermuka masam dan selalu cemberut.

Jadilah wanita yang bijaksana dan sabar dan janganlah menjadi wanita yang plin-plan dan temperamental.

Jadilah seorang ibu yang menghangatkan dan janganlah menjadi wanita yang dingin hingga dijauhi.

Jadilah wanita yang dicintai dan dirindukan dan jangan menjadi wanita yang lalai dan dilalaikan.

Jadilah wanita mukminah dan bersyukur dan janganlah menjadi wanita kafir dan kufur.


Jadilah wanita pencemburu yang dicintai dan jangan menjadi wanita pencemburu yang menghancurkan.

Jadilah wanita pengatur rumah tangga yang qana'ah dan janganlah menjadi wanita yang mubadzir.

Jadilah wanita penghuni surga dan janganlah pernah menjadi wanita penghuni neraka.

Jadilah sahabat wanita yang dicintai dan janganlah menjadi musuh yang dibenci.

Jadilah wanita yang pendiam dan lemah-lembut dan janganlah menjadi wanita yang cerewet dan kasar.

Jadilah wanita seperti, Khadijah,Zainab dan Aisyah, Dan janganlah menjadi seperti istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh.

Jadilah wanita seperti wanita yang ALLAH suka melihatnya dan janganlah menjadi wanita seperti wanita yang setan suka melihatnya.

Sumber : Inspirasi dari status FB Agus Friyanto

Jumat, 06 Oktober 2017

Baru Berumur 8 Tahun, Anak Ini Minta Masuk Islam

menghampiri kita. Bahkan hidayah tak memandang usia. Ini dibuktikan dari sebuah peristiwa dimana anak yang baru berumur 8 tahun berani meminta kepada orangtuanya untuk memeluk Islam. Dikutip dari Tribun Pontianak, inilah kisah bocah kecil yang mendapat hidayah masuk Islam.

Eriyanti (44), ibu dari Yogi Setiady bocah 8 tahun asal kecamatan Delta Pawan Ketapang yang memilih untuk menjadi mualaf menceritakan kisah Yogi sejak kecil. Ia mengatakan ketika baru pandai berbicara Yogi memang suka pada hal-hal terkait Islam. Misalnya ketika melihat Masjid menurutnya Yogi pasti senang dan selalu menyebut ada alaaba. "Maksudnya itu Allahu Akbar,” tuturnya.

Kredit foto: tribunpontianak.co.id/Subandi

Sedangkan ketika diajak ke tempat ibadahnya Yogi selalu menolak. Pernah ketika dibawa Yogi menangis dan ngajak keluar mau pulang. Kemudian ketika dibawanya pulang ke kampung halamannya di hulu yang banyak anjing dan babi. Menurutnya Yogi juga tidak suka dan takut tersentuh anjing atau babi. Bahkan ketika mereka makan daging babi tapi Yogi sejak kecil pun tidak pernah mau makan babi.

Namun ketika ada tetangganya di Ketapang ada acara seperti selamatan. Maka Yogi selalu mengajaknya untuk pergi ke acara tersebut. “Katanya ayo ma kita pergi ke tempat orang amin-amin. Saya tanya di mana, katanya itu menunjukkan tempatnya, ternyata tempat orang Muslim selamatan gitu,” kenangnya.




Kemudian ketika awal Yogi masuk sekolah meminta izin kepadanya untuk ikut teman-temannya mengaji dan solat. Lantaran merasa berbeda keyakinan ia awalnya melarang Yogi. “Saya bilang tak boleh, kita kan beda, tak sama, saya bilang gitu,” ungkapnya.

“Tapi dia bilang mau ikut Islam saja. Di rumah ini kan ada handuk sering dibuatnya alas untuk sajadah, dia belajar sembahyang sendiri. Bahkan dia selalu mengajak teman-temannya seperti solat di rumah ini dan dia imamnya,” tuturnya.

Menurutnya kejadian itu pernah juga direkam abang Yogi. Kemudian ketika masih kelas satu SD Yogi juga selalu menghilang dari rumahnya, sore menjelang Magrib dan siang Jumat. “Pas Jumat tak sengaja melihat seperti Yogi pakai kopiah dan baju koko,” jelasnya.

“Ternyata benar dan ketika pulang saya tanya dari mana, katanya dari masjid. Rupanya dia minjam baju kawannya untuk Solat Jumat. Saya bilang benar-benar Yogi, nanti kamu masuk Islam, dijawabnya dia memang mau masuk Islam,” lanjutnya. “Rupanya tiap sore hilang dia melihat cara orang Solat di surau dekat sini. Kalau pukul 15.00 WIB dia selalu pergi ke tempat-tempat pendidikan agama Islam. Di sekolah pun tak mau belajar agama kami, dia hanya mau belajar pas pelajaran agama Islam,” tambahnya.


Kemudian pernah juga tetangganya mengatakan kalau Yogi menghilang sore maka degar saja di Surau. Jika ada suara orang ngaji dan salawat itu adalah Yogi. “Jadi ku intaikan ternyata memang benar dan anak-anak lain pun ramai mengikutinya,” tuturnya.

Ia menambahkan hingga belum lama ini Yogi memaksa minta disunat dan disahkan untuk memeluk agama Islam. “Jadi kita orangtua mengikhlaskannya. Hanya saya berharap setelah anak saya masuk Islam begini,” tegasnya.

“Maka ia harus dibimbing dengan sebenar-benarnya untuk memperlajari agama Islam. Jangan nanti malam dilepas dan dibiarkan begitu saja,” harapnya mendampingi Yogi. Sementara itu Yogi menegaskan masuk Islam karena memang keinginan sendiri. Bahkan sebelumnya ia sering belajar tentang Islam secara sendiri. Ia menegaskan masuk Islam karena ingin masuk surga nantinya.
Di hadapan awak media ketika ia diminta melantunkan ayat Alquran dan doa dalam Islam.

Ia pun langsung melakukannya tanpa teks. Ternyata ia sudah cukup banyak hafal ayat Alquran dan doa dalam Islam. Sebelumnya diberitakan Yogi Setiady (8) menjadi perbincangan masyarakat di Ketapang.

Lantaran ia dikabarkan pindah keyakinan dari non Muslim menjadi Muslim atau menjadi mualaf.
Ia resmi masuk Islam di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Delta Pawan, Kamis (5/10/2017).
Bahkan dikabarkan bocah Kelas II SDN 18 Sukabangun, Ketapang ini ketika ke KUA Delta Pawan tersebut diantar langsung ibunya Eriyanti (44) yang merupakan non Muslim.

Saat dikonfirmasi wartawan, sang ibu Eriyanti membenarkan kabar yang beredar tersebut.
“Iya saya memang mengantar dan menyaksikan langsung anak saya Yogi di KUA Delta Pawan itu untuk disahkan memeluk Agama Islam,” katanya kepada wartawan di rumahnya, Jumat (6/10/2017)

Sumber: tribunpontianakco.id/ Subandi

Kamis, 15 Juni 2017

Warga Muslim Jadi Pahlawan Penyelamat Kebakaran London

Tipsiana.com - Warga Muslim yang tinggal di apertemen Grenfall London dipuji sebagai pahlawan penyelamat pada peristiwa kebakaran gedung kemarin. Mereka membangunkan para tetangga yang masih tertidur lelap ketika kejadian terjadi.

Warga muslim yang sedang santap sahur mencium bau asap pada sabtu dinihari dan segera berlarian menggedor pintu para tetangga agar segera menyelamatkan diri. Mereka menjadi penyelamat setelah belakangan diketahui alarm dan penyemprot api tidak berfungsi.


Khalid Suleman, 20, yang tinggal di lantai delapan gedung Grenfell Tower mengatakan biasanya ia terjaga hingga larut malam untuk menunggu makan sahur. "Tak ada alarm tanda peringatan berbunyi, Aku sedang main Playstation sambil menunggu sahur hingga terciup bau asap" katanya.

"Aku langsung beranjak melihat keluar jendela dan terlihat lanta tujuh gedung berasap. Kubangunkan bibiku, berpakaian dan langsung menggedor pintu para tetangga."

Semua pintu terbuka kecuali dua pintu, tapi yg terakhir akhirnya ikut membuka pintunya. Jadi hanya satu keluarga yang tak bisa dibangunkan."


Menurut Lembaga Masjid London, sahur di kota London pada sabtu keamrin selesai saat fajar pada pukul 2.40 dinihari. Rashida, berkata,"Kebanyakan umat muslim baisanya belum tidur hinggga pukul 02.00 atau 02.30 dinihari untuk shalat malam dan sahur. Jadi seluruh keluarga masih bangun sehingga bila ada sesuatu yang tak beres di lingkungan sekitar pada jam tersebut, mereka pasti mengetahuinya."

Seorang warga yang diwawancarai reporter mengatakan, "Andai saja tak ada para remaja Muslim yang berdatangan dari masjid untuk menolong kami, bakal banyak orang yang akan mati."

"Mereka lah orang pertama yang membagikan air, berlarian dan berteriak membangunkan warga."

Relawan Muslim membantu para korban kebakaran

Andre Barroso, 33 tahun, bercerita pada The Independent, "Warga Muslim berperan besar menyelamatkan orang-orang keluar dari sini . Kulihat orang-orang yang menolong kebanyakan adalah Muslim. Mereka juga menyediakan makanan dan pakaian."

200 petugas pemadam kebakaran dikerahkan beserta 40 mobil damkar. Sejauh ini ditemukan 6 orang tewas akibat kebakaran gedung 27 lantai tersebut.

Sumber : dailymail.co.uk

Rabu, 14 Juni 2017

Benarkah Gajah Mada Seorang Muslim?

Tipsiana.com - Siapa yang tidak kenal Gaj Ahmada (Gajahmada). Agama apa sebenarnya yang dianut Gaj Ahmada?

Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta sengaja melakukan penelitian untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis .

Maka tim ini kemudian menerbitkan hasil penelitiannya dalam sebuah buku awal berjudul "KESULTANAN MAJAPAHIT Fakta Sejarah Yang Tersembunyi".


Berikut diantara hasil penelitian tersebut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Sebagaimana kita ketahui, koin merupakan sebuah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Maka sungguhlah mustahil jika dikatakan bahwa sebuah kerajaan Hindu memiliki koin yang bertuliskan kalimat tauhid seperti ini.


2. Pada batu nisan Syaikh Maulana Malik Ibrabim (Sunan Gresik) terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Qadhi (hakim agama Islam) kerajaan Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa Agama Islam merupakan agama resmi kerajaan tersebut.

3. Lambang kerajaan Majapahit berupa delapan sinar matahari dengan beberapa tulisan arab yakni sifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan Dzat. Mungkinkah sebuah kerajaan Hindu memiliki logo/lambang resmi bertuliskan kata-kata arab seperti in?

4. Pendiri kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya ternyata seorang muslim. Beliau adalah cucu dari Prabu Guru Dharmasiksa, seorang Raja Sunda sekaligus ulama Islam Pasundan yang hidup selayaknya seorang sufi. Sedangkan neneknya merupakan seorang muslimah keturunan penguasa Kerajaan Sriwijaya. Meskipun Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (menggunakan bahasa sansekerta yang lazim digunakan saat itu), tidak lantas menjadikan beliau seorang pemeluk Hindu. Gelar seperti ini (menggunakan bahasa sansekerta) ternyata masih juga digunakan oleh raja-raja muslim jawa zaman sekarang seperti Hamengkubuwono dan Paku Alam di Yogyakarta serta Pakubuwono di Surakarta/Solo.


4. Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut. Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia). Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.

5. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Timur tengah pun berada dalam situasi konflik yang tidak menentu. Terjadilah eksodus besar-besaran (pengungsian) kaum muslim dari Timur Tengah (tetutama keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan sebutan alawiyah). Mereka menuju kawasan Nuswantara (atau Nusantara) yang kaya akan sumber daya alamnya. Mereka pun menetap dan melanjutkan keturunan yang sebagian besar menjadi penguasa kerajaan-kerajaan di nusantara, termasuk kerajaan Majapahit.

Itulah beberapa fakta mengejutkan yang tersembunyi dari kerajaan Majapahit. Anda terkejut? Saya pun demikian. Mengapa bisa terjadi kesalahan seperti ini? Kita tahu, kawasan nusantara saat itu dikuasai penjajah Belanda yang kafir. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Ttd

(ARIF BARATA)

*Sumber: Facebook Arif Barata
---------
Tentunya klaim ini butuh pembuktian lebih lanjut, namun tak salah jika ini menjadi tesis baru untuk mengungkap kebenaran sejarah.

Namun teori bahwa Gajah Mada adalah muslim dan kerajaan Majapahit sebenarnya adalah Kesultanan Majapahit yang menganut agama Islam ternyata dikritisi juga oleh pihak lain. Anda bisa membandingkan argumen kontra-nya pada artikel ini : http://wongcilikbicara.blogspot.co.id/2010/11/majapahit-bukan-kesultanan-islam.html
(redaksi tipsiana)