Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 November 2017

Momen Haru Saat Ayah Korban Maafkan dan Peluk Pembunuh Anaknya

Ayah dari seorang supir Muslim pengantar pizza yang jadi korban pembunuhan, mengampuni dan memeluk pelaku yang dijatuhi hukuman penjara karena berperan dalam kematian anaknya.

Pada persidangan yang dilaksanakan di pengadilan Lexington, Kentucky, AS pada Selasa 7 November 2017 kemarin, Ayah korban, Dr. Abdul Munim Sombat Jitmoud memeluk terpidana, Trey Alexander Relford, yang menangis menyesali perbuatannya.


Sang ayah mengatakan, ia memaafkan Trey karena mengikuti ajaran Islam. "Islam mengajarkan bahwa Tuhan takkan memaafkan seseorang sebelum orang tersebut mendapatkan maaf dari orang yang disakitinya," kata Abdul Munim di depan sidang. "Pintu kesempatan untuk mendapat pengampunan dari Tuhan telah terbuka... Jadi, dapatkanlah pengapunanNya. Kamu telah memiliki babak baru untuk bisa hidup lebih baik."

Pada malam bulan April 2015, Salahuddin Jitmoud sedang mengantarkan pesanan pizza terakhir sebagai supir Pizza Hut. Naas, ia dirampok dan ditikam hingga tewas di sebuah kompleks apartemen di Lexington, Kentucky. Tubuhnya ditemukan terkapar di pelataran kompleks.

Tiga orang ditahan, tapi sidang hanya memvonis Relford. Ia terbukti sebagai perencana perampokan walau menolak membunuh Salahuddin.

Relford akhirnya divonis 31 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, dan bukti yang menunjukkan bahwa ialah yang menikam Salahuddin.


Ayah Salahuddin mengatakan bahwa ia telah memaafkan Relford.

"Anakku, keponakanku, aku memaafkanmu atas nama Salahuddin dan ibundanya."

"Saya tidak menyalahkanmu atas kejahatan yang telah kau lakukan, saya tidak marah kepadamu telah menjadi bagian dari yang menyakiti putra saya." 

"Saya marah pada Iblis, saya salahkan Iblis, yang menyesatkan kamu dan membuat kamu melakukan kejahatan mengerikan ini." 

"Saya sungguh merasa iba pada orangtua kamu, mereka membesarkan kamu dan ingin kamu menjadi sukses. Kesuksesan kamu adalah kesuksesan mereka, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan mereka." 

"Sekarang mereka harus menangis akibat kejahatan mengerikan (pembunuhan) yang telah kamu lakukan."

"Pemaafan dan pengampunan adalah anugerah terbesar dalam Islam. Saya harus mengeluarkan semua perasaan saya untuk memaafkan orang yang telah menjahati keluarga saya."

Hakim tampak terisak saat menutup sidang, sementara dengan menangis si pembunuh meminta maaf atas perbuatannya. Diiringi tangis ibu pelaku, Relford kemudian dipeluk erat oleh Abdul Munim. Sang ayah korban lalu berbisik di telinga Relford, "Setelah nanti keluar dari penjara, berbuat baiklah".

Sumber: CNN

Senin, 06 November 2017

Wanita Berbobot 300 kg ini Berhasil Turunkan Berat Badannya Dengan Drastis

Lebih dari 30.000 jiwa meninggal setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan kegemukan. Padahal para ahli kesehatan selalu memperingatkan untuk lebih sering berolahraga dan makan makanan sehat untuk menghindari kegemukan.

Semakin gemuk seseorang, resiko akan kematian akibat penyakit yang berkaitan dengan obesitas akan meningkat tajam.


Amber Rachdi dari Oregon, AS adalah contoh gadis dengan kasus obesitas akut. Pada usia 24 tahun ia telah berbobot hingga 300 kg yang membuatnya sulit beraktifitas.

Hampir tak bisa bergerak, Amber sampai harus kembali dirawat di rumah orangtuanya. Ia hanya meninggalkan rumah untuk membeli makanan dan benar-beanr bergantung pada kursi listrik untuk berjalan.


Amber sadar ia harus melakukan sesuatu terhadap tubuhnya atau ia akan segera kehilangan nyawa. Rowdy, pacar Amber, memberi semangat agar ia bisa menurunkan berat badan, tapi itu tak mudah. Ia setidaknya biasa makan 4 kali porsi besar setiap hari dan tubuhnya mengembang tak terkontrol.

Sebagai usaha terakhir, ia bersedia mengikuti sebuah acara reality show bertajuk, "My 600lb Life" untuk mencoba mengontrol berat badannya.


Ia memutuskan untuk menjalani operasi pengecilan lambung, tapi ia kuatir. Ada resiko besar bila ia menjalani operasi tersebut. Selain itu, ia harus terlebih dulu mengurangi berat badannya sebesar 10 kg agar bisa menjalani operasi.



Untuk itu, ia dipindahkan ke Texas agar bisa intens ditangani oleh dokter yang akan mengoperasinya, Dr. Nowzaradan. Ia juga mulai menerapkan rutinitas makan diet sehat. Operasinya akhirnya berjalan sukses. Setelah 12 bulan operasi, Amber telah berhasil mengurangi berat badannya sebesar 65kg.


Dokter sangat senang dengan perkembangannya dan menawarkan untuk menghilangkan kulit berlebih di tubuh yang akan makin mengurangi berat badannya.  Kini, berat badan Amber tinggal 120 kg. Orang-orang pun dibuat tak percaya dengan perubahannya.

Kamis, 02 November 2017

Fabel Pensil Dan Penghapus, Sebuah Dialog Menyentuh

Kadang kita dapat mengambil pelajaran mendalam dan menyentuh dari hal-hal kecil yang biasa-biasa saja. Seperti sebuah fabel sederhana ini, kita akan diajarkan tentang arti sebuah hubungan.

Pernahkah Anda mendengar tentang hubungan persahabatan antara pensil dan penghapus? Anda mungkin akan tersentuh  setelah membaca kisahnya. Kisah indah ini juga dapat Anda ceritakan kembali kepada mereka yang Anda sayangi.


Pensil: "Maafkan aku..."

Penghapus: "Karena apa?"

Pensil: "Maafkan aku karena aku selalu membuatmu terluka..."

"Setiap aku membuat kesalahan, kau selalu ada untuk menghapus kesalahanku itu. Tapi setiap kau hilangkan kesalahanku, kau akan kehilangan sebagian tubuhmu... Dan setiap kau hapus kesalahanku, tubuhmu akan makin mengecil dan terus mengecil."

Penghapus: "Kau benar, tapi aku tak peduli. Kau tahu, aku dibuat memang untuk itu. Aku dibuat untuk menolongmu setiap kau membuat kesalahan, meski aku tahu... suatu saat tubuhku akan habis tak bersisa."

"Aku bahagia dengan tugasku ini, jadi kumohon... berhentilah mengkuatirkanku, Aku takkan bisa bahagia jika kau bersedih."


Orangtua kita ibarat sebuah penghapus, dan kita adalah pensilnya.  Mereka akan selalu ada untuk kita, selalu membantu untuk membersihkan akibat yang disebabkan oleh kesalahan yang kita buat.

Sama seperti penghapus yang perlahan akan habis tergerus, begitu jugalah orangtua yang kita cintai. Suatu saat mereka akan pergi untuk selamanya.

Maka dari itu, selalu berbuat baiklah kepada kedua orangtua mu, rawatlah mereka dan yang terpenting, cintailah mereka dengan sepenuh hatimu. Karena mereka telah hadir untukmu dan rela mengorbankan diri demi untukmu.

Minggu, 29 Oktober 2017

Seuntai Nasihat Untukmu Wanita

Engkau, wahai wanita, adalah anugerah yang diciptakan oleh Allah dengan sangat istimewa. Engkaulah yang membuat kami para pria merasa damai karena engkau selalu menemani. Engkaulah yang membuat anak-anak kita menjadi anak yang berbudi pekerti mulia dan berangsur-angsur tumbuh menjadi manusia sholeh dan sholeha.

Engkaulah yang berperan penting untuk menentukan baik buruk suami dan anak-anak kita. Bahkan lewat tangan lembut Andalah kami semua menjadi manusia berarti.


Kami para lelaki tidak perlu lagi mengajari apa yang harus Anda jalani, namun tak salah bila kami mengingatkan bahwa inilah kelebihan Anda yang akan selalu kami, para lelaki, kagumi.

Jadilah wanita yang penyayang dan lembut dan janganlah menjadi wanita yang kasar dan keras.

Jadilah wanita yang berwajah berseri dan selalu tersenyum dan janganlah menjadi wanita yang bermuka masam dan selalu cemberut.

Jadilah wanita yang bijaksana dan sabar dan janganlah menjadi wanita yang plin-plan dan temperamental.

Jadilah seorang ibu yang menghangatkan dan janganlah menjadi wanita yang dingin hingga dijauhi.

Jadilah wanita yang dicintai dan dirindukan dan jangan menjadi wanita yang lalai dan dilalaikan.

Jadilah wanita mukminah dan bersyukur dan janganlah menjadi wanita kafir dan kufur.


Jadilah wanita pencemburu yang dicintai dan jangan menjadi wanita pencemburu yang menghancurkan.

Jadilah wanita pengatur rumah tangga yang qana'ah dan janganlah menjadi wanita yang mubadzir.

Jadilah wanita penghuni surga dan janganlah pernah menjadi wanita penghuni neraka.

Jadilah sahabat wanita yang dicintai dan janganlah menjadi musuh yang dibenci.

Jadilah wanita yang pendiam dan lemah-lembut dan janganlah menjadi wanita yang cerewet dan kasar.

Jadilah wanita seperti, Khadijah,Zainab dan Aisyah, Dan janganlah menjadi seperti istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh.

Jadilah wanita seperti wanita yang ALLAH suka melihatnya dan janganlah menjadi wanita seperti wanita yang setan suka melihatnya.

Sumber : Inspirasi dari status FB Agus Friyanto

Jumat, 13 Oktober 2017

Kisah Haru Pasangan Difabel yang Saling Melengkapi: Aku adalah Matamu dan Kau Adalah Kakiku

Kisah Si buta dan Si lumpuh sering kita dengar sebagai hikayat yang diceritakan para sufi sebagai pembawa pesan moral yang indah. Namun sebenarnya, dalam kehidupan nyata kisah dua manusia yang saling melengkapi satu sama lain tersebut memang benar-benar ada.



Pada sebuah foto yang diambil pada tahun 1889, memperlihatkan dua orang lelaki difabel yang saling bekerjasama agar mereka bisa berjalan layaknya orang normal. Mohammed, seorang Muslim yang buta, bergantung pada mata Sameer, seorang Kristen yang lumpuh. Kedua yatim piatu tersebut selalu hidup bersama dan saling membutuhkan. Ketika Sammer meninggal, Mohammed kehilangan separuh dirinya dan ikut meninggal dalam kesedihan seminggu kemudian.


Kini, kisah tersebut terulang kembali. Cao Shucai, lelaki buta berusia 63 tahun, selalu menggendong istrinya yang lumpuh, Xu Houbi, selama 29 tahun terakhir. Pasangan asal Tiongkok ini benar-benar membutuhkan satu sama lain dan telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Pasangan yang tinggal di desa Yong'an di Chongqing ini menjadi viral setelah kisah mereka dimuat di laman fanspage People's Daily China di Facebook dan menjadi viral. Jutaan orang telah melihat dan menyebar postingan tersebut.


Sang istri menderita penyakit rakhitis hingga lumpuh. Bila ingin bepergian, ia harus digendong suaminya dengan cara dimasukkan kedalam sebuah keranjang besar.  "Selama 29 tahun kami hidup dengan cara ini. Mataku tak dapat melihat dan ia menjadi mataku. Kakinya lumpuh, dan aku selalu menggendongnya. Aku menjadi matanya." Cao Shucai bercerita.

Chao mengalami kebutaan pada mata kanan sedari kecil. Ia menjadi buta total setelah tak sengaja tersandung dan jatuh di tahun 1988. Mereka mengaku dapat menikmati hidup dengan selalu bersama. Dan akan terus seperti ini selamanya.

Entah apakah itu hanya sebuah kiasan atau benar-benar harfiah, cinta memang selalu tentang saling melengkapi.

Sabtu, 30 September 2017

Kisah Kasih Tak Sampai Pierre Tendean dan Rukmini

Tipsiana.com - Tanggal terjadinya malam naas tersebut, 30 September adalah ulang tahun ibunda Pierre. Biasanya setiap tanggal tersebut ia pulang ke Semarang untuk merayakan ultah sang ibu bersama keluarganya. Namun kali ini, pada 30 september 1965 Pierre tak bisa pulang karena ia harus mengawal Jenderal A.H. Nasution sampai siang. Ia sudah memberitahu beberapa hari sebelumnya dan berjanji akan pulang bersama Jusuf Razak, suami adiknya, Rooswidiati Tendean pada 1 Oktober 1965. Dan ia mengatakan akan mengajak serta Ade Irma Suryani, putri Jenderal Nasution yang baru berusia 5 tahun dan ikut menjadi korban gerakan tersebut.


Keesokan harinya pada 1 Oktober 1965, Jusuf Razak datang ke rumah Jenderal Nasution untuk menjemput Pierre. Keadaan di rumah Jenderal Nasution membuatnya heran karena sangat banyak tentara yang berjaga-jaga. Jusuf pun ditodong dengan senapan ketika memasuki halaman rumah Jenderal Nasution. Ia menanyakan keberadaan Pierre karena harus menjemputnya untuk pulang ke Semarang. Namun kata salah seorang tentara yang berjaga, dikatakan Pierre sedang menemani Jenderal Nasution melaksanakan tugas tanpa memberitahu dimana dan sampai kapan. Akhirnya Jusuf berangkat ke Semarang sendirian saja.

Ternyata Jusuf dan keluarga besar Tendean di Semarang tidak tahu bahwa pada pagi itu terjadi gerakan kup (kudeta) oleh gerombolan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September (G30S). Belakangan pihak keluarga tahu dan diliputi kecemasan karena Jenderal Nasution merupakan sasaran nomor satu gerombolan tersebut. Kakak Pierre, Mitzi, berusaha mencarin informasi pasti dari berbagai pihak.

Keesokan harinya, dari tanggal 2-4 Oktober 1965 barulah titik terang mulai diketahui dari berita radio mengenai kejadian apa yang sebenarnya terjadi pada subuh 1 Oktober 1965 itu. Siaran radio memberitakan bahwa ada 7 orang korban, salah satunya adalah Lettu (CPM) Pierre Tendean. Walaupun nama Pierre disebut, Mitzi belum yakin bahwa itu adalah Pierre, adiknya, karena Pierre adalah Zeni (CZI). Namun tak lama kemudian, Jenderal Suryo Sumpeno menelepon dan mengatakan bahwa Pierre ikut gugur dalam peristiwa tersebut.

Mendengar kabar tersebut, kata Mitzi, seluruh anggota keluarganya menangis. Mereka merasa termat sedih karena kehilangan Pierre, anggota keluarga yang paling disayang.

Banyak yang penasaran mengenai masa kecil Pierre. Mitzi menceritakan kehidupan adiknya panjang lebar.


Pierre Andries Tendean dilahirkan di Jakarta pada 21 Februari 1939 di RS. Cipto Mangunkusumo. Usianya terpaut 5 tahun dari Mitzi.

Keluarga Tendean tidak lama di Jakarta karena sang ayah, Bapak A.L. Tendean yang merupakan seorang dokter mendapat tugas untuk memberantas penyakit malaria di Tasikmalaya, yang membuat beliau sampai ikut tertular. Dari sana keluarga mereka pindah lagi ke Cisarua agar sang ayah dirawat di Sanatorium Cisarua. Di Sanatorium inilah kemudian A.L. Tendean berdinas kembali sebagai dokter setelah ia sembuh.

Mitzi menceritakan saat keluarga mereka di Cisarua inilah kehidupannya bersama Pierre amat menyenangkan dan penuh kenangan. Rumah dinas mereka di kelilingi gunung, sawah dan kebun buah ceri. Saat padi menguning dan dipanen, ia dan Pierre sering bermain disawah. Namun mereka juga tak lama disitu karena sang ayah kembali dipindahkan ke Magelang karena mendapat promosi jabatan sebagai Wakil Direktur RS Keramat. Tak lama kemudia Jepang menguasai Nusantara.

Saat zaman Jepang, kehidupan keluarga Tendean serba susah. Beras harganya sangat mahal sehingga keluarga mereka makan gaplek. Namun namanya juga anak-anak, Mitzi dan Pierre tidak tahu hidup susah. Mitzi dan Pierre yang saat itu sudah masuk SR (Sekolah Rakyat/Sekolah Dasar) malahan tetap saja terus bermain tanpa mengenal waktu. Pierre paling senang main di sungai. Pierre kerap main “kucing-kucingan” dengan sang ayah yang melarangnya main di sungai. Tapi, dasar anak lelaki, makin dilarang maka makin membandel.

Rasanya Pierre tidak kapok-kapok menghadapi ayahnya yang kerap memukulnya dengan sapu lidi, gesper (ikat pinggang) atau sandal apabila ia nakal. Maklum, sang ayah mendidik anak-anaknya dengan keras dan disiplin.

Walau masih kecil dan bandel, Pierre sudah menunjukkan sikap dewasa dan bertanggung jawab. Ia suka membantu orang lain. Ia sering mencari siput untuk diberikan sebagai tambahan lauk pauk untuk keluarga kawan-kawan mainnya.


Pada masa inilah keluarga mereka mulai “berurusan” dengan gerombolan PKI untuk pertama kalinya ketika sisa-sisa pelarian gerombolan PKI Madiun yang melakukan pemberontakan di Madiun pada tahun 1948 merampok rumah keluarga Tendean dan membawa ayah Pierre. Saat hari sudah gelap, sang ayah mencoba melarikan diri dengan menceburkan diri ke sungai. Namun gerombolan tersebut menembaki sang ayah dengan membabi-buta sehingga kakinya tertembak dan cacat seumur hidup karena tembakan senapan gerombolan tersebut membuat tulangnya pecah. Karena kejadian itu, keluarga mereka terpaksa pindah ke Semarang karena Bapak A.L. Tendean harus dirawat di RS. dr. Karyadi. Mulai saat itu, keluarga mereka menetap di Semarang.

Pierre menempuh pendidikan SMP hingga tamat SMA di Semarang. Prestasi belajarnya pun memuaskan. Nilai bahasa asingnya seperti Inggris, Belanda, dan Jerman sangat baik. Pierre tentu saja menguasai Bahasa Perancis karena sang ibu merupakan seorang keturunan Perancis. Saat SMA ini sang ayah memberi hadiah motor Ducati kepada Pierre.

Seperti para pelajar SMA masa kini, Pierre pun juga pernah ikut tawuran pelajar antar sekolah. Bahkan saat tawuran pada tahun 1957, ia pernah terlibat tawuran menggunakan senjata tajam. Ia pun sempat terkena sabetan pisau lawannya dari sekolah lain di tangannya dan meninggalkan bekas luka. Saat SMA pun Pierre dikenal sebagai anak gaul, karena teman-temannya sangat banyak dari berbagai kalangan.

Ketika Pierre menamatkan SMS, ayahnya ingin ia masuk kuliah kedokteran agar bisa menjadi dokter seperti dirinya. Namun sang ibu menginginkan Pierre menjadi seorang insinyur. Namun Pierre membangkang kemauan saran kedua orangtuanya. Ia hanya mendapatkan dukungan dari sang kakak, Mitzi.

Sang kakak pun menawarkan solusi rahasia kepada Pierre agar Pierre tidak menyakiti ayah dan ibu mereka. Mitzi menyuruh Pierre ikut tes masuk Fakultas Kedokteran di Jakarta dan Fakultas Teknik ITB Bandung tapi asal menjawab soal-soal ujian tersebut. Tentu saja, dengan cara tersebut Pierre tidak diterima masuk FKUI dan FT ITB. Kemudian ia ikut ujian masuk AMN (kali ini serius mengerjakan soal ujian), dan diterima. Di Bandung, Pierre menumpang di tempat mertua Jenderal Nasution yang bersahabat erat dengan ayah mereka.

Nah, di AMN ini Jenderal Nasution menyarankan Pierre agar mengambil jurusan teknik (ATEKAD) agar nanti ia bisa melanjutkan ke ITB atau fakultas teknik di kampus lain. Tentu saja Jenderal Nasution menyarankan ini karena ia tahu keinginan ibu Pierre agar tidak mengecewakan ibun Pierre yang ingin anaknya menjadi insinyur,

Tentu saja sebagai siswa sekolah militer (taruna), Pierre mendapat uang saku dari negara. Namun namanya juga Pierre, anak laki-laki satu-satunya yang paling disayang sang ibu, Pierre tetap saja masih manja kepada sang ibu. Karena itu ia suka meminta uang tambahan kepada sang ibu lewat surat, “...seandainya Mami memiliki uang belanja lebih, tolong kirimi saya, karena saya ingin membeli film”. Modusnya mirip seperti anak-anak zaman sekarang, ya.

Semasa menjalani pendidikan di ATEKAD, Pierre menjadi idola gadis-gadis yang tinggal di sekitar ATEKAD karena ia amat tampan dan bertubuh tegap.

Pada tahun 1958, Pierre yang masih menjadi taruna ATEKAD bersama rekan-rekan seangkatannya dikirim ke Sumatera untuk berperang melawan pemberontak PRRI. Ini merupakan praktek lapangan yang menjadi pengalaman pertamanya sebagai militer.

Pierre lulus ATEKAD tahun 1962 dengan nilai sangat memuaskan. Saat Presiden Soekarno mengumandangkan Dwikora, Pierre sudah berpangkat Letda (Letnan Dua) dan bertugas di Medan sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur Kodam II Bukit Barisan. Nah, saat bertugas disini dia mengenal Rukmini yang dipacarinya sampai merencanakan menikah pada November 1965.

Lalu tahun 1963, Pierre dipindahkan ke Bogor karena tugas belajar di Sekolah Intelijen. Nah, setelah lulus Pierre ditugaskan untuk menyusup ke Malaysia. Ia menyusup sampai 3 kali. Pada penyusupannya yang ketiga kali, ia nyaris tertangkap oleh Angkatan Laut Inggris. Ia bersembunyi di dalam air, tepatnya di bawah perahu dengan seluruh tubuh menempel sejajar pada dasar perahu hingga kapal Angkatan Laut Inggris meninggalkan lokasi. Sedangkan anak buahnya bersembunyi dengan menyamar sebagai nelayan, di balik perahu nelayan sambil berpura-pura menyelam mencari ikan. Dalam penyusupan-penyusupan sebelumnya, Pierre selalu berhasil lolos tanpa dicurigai dan pulang ke Jakarta karena menyamar sebagai turis. Penyamarannya ini memang didukung oleh penampilannya yang kebule-bulean, tinggi tegap dan mempunyai kemampuan Bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis yang fasih.

Kala bertugas menyusup ke Malaysia (termasuk Singapura yang dulu merupakan wilayah Malaysia), Pierre tak lupa membawa oleh-oleh kala pulang. Pierre membelikan ayahnya jam tangan dan rokok merk Commodore. Untuk dirinya sendiri Pierre membeli jaket dan jam tangan. Kakaknya dibelikan kaus dan raket tenis yang hingga kini masih disimpan oleh sang kakak, karena saat memberikan oleh-oleh tersebut Pierre berpesan, “Ojo didhol, lho” (bahasa Jawa: jangan dijual, ya). Pierre membeli barang-barang tersebut dengan uang sakunya. Ia memperoleh uang saku yang besar karena tugas yang dijalaninya tersebut sangat berbahaya.

Karena dirinya anak rumahan, Pierre selalu meluangkan waktu untuk berkirim surat dimanapun ia berada. Semua anggota keluarga ia surati semua. Dalam sebuah suratnya Pierre menceritakan bahwa ia selalu menjadi penerjemah apabila komandannya menerima tamu yang mendarat di Pelabuhan Belawan. Tiap mendapat tamu asing, Pierre selalu bilang dalam suratnya bahwa itu adalah waktu dirinya bisa makan enak.

Walau karir militernya menanjak dan sudah berusia dewasa, ia tetaplah seorang “anak mami” dalam keluarganya. Ia pasti akan pulang ke Semarang apabila mendapat libur. Setiap mendapat kabar Pierre akan pulang, pasti sang ibu langsung sibuk membuat makanan dan minuman kegemaran anak lelaki kesayangannya itu seperti kue sus, ayam panggang, sambal bajak dan sirup manis. Saat masih pendidikan di ATEKAD, Pierre selalu menanyakan bahwa dirinya minta dikirimi sambal apabila ada kenalan yang kebetulan ke Bandung.





Karena prestasinya menyusup di Malaysia, ia menjadi pembicaraan di kesatuannya. Hal ini sampai ke telingan Jenderal Nasution. Jenderal Nasution bersikeras menginginkan Pierre sebagai ajudannya untuk menggantikan Kapten Manullang yang gugur saat menjadi anggota Kontingen Pasukan Garuda untuk menjaga perdamaian di Kongo. Sebenarnya ada 3 Jenderal yang menginginkan Pierre menjadi ajudannya, yaitu Jenderal Nasution, Jenderal Hartawan dan Jenderal Kadarsan, namun Jenderal Nasutionlah yang mendapatkan Pierre.

Mengetahui Pierre akan bertugas sebagai ajudan Jenderal Nasution, sang ibu merasa senang karena ia selalu khawatir memikirkan Pierre yang sering tidak diketahui sedang bertugas dimana. Jenderal Nasution mempunyai 4 ajudan, dan Pierre adalah ajudannya yang paling muda dan sekaligus paling ia sayang.

Soal Pierre, dalam buku “Memenuhi Panggilan Tugas”, Jenderal Nasution mengatakan bahwa “Pierre Tendean seperti adik kandung bagi saya dan istri saya. Mungkin sekali karena pengaruh sayalah ia menjadi taruna, karena orang tuanya semula sebenarnya tidak setuju. Ia tinggal di rumah saya sebagai anggota keluarga biasa”. Hal ini bisa dibuktikan oleh kesaksian Hendrianti Sahara (Yanti), putri sulung Jenderal Nasution. Dari keempat ajudan ayahnya, Ia dan sang adik, Ade irma Suryani paling akrab dengan Pierre, dan Pierre selalu bermain dengan mereka kala ada waktu luang di rumah. Yanti masih ingat wajah tampan Pierre suka senyum-senyum sendiri kala membaca surat dari Rukmini, kekasihnya di Medan. Oleh karena itu, ia kerap menggoda Pierre yang sedang kasmaran dan menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk “menodong” permen atau cokelat ke Pierre yang ia panggil dengan sebutan “Om”. Ia mengenang, Pierre sering menemani Ade main sepeda di halaman rumah. Pierre memang paling sayang kepada Ade.

Seperti yang tertulis sebelumnya bahwa Pierre membangkang keinginan orangtuanya yang ingin dirinya menjadi dokter atau insinyur untuk masuk kemiliteran. Kala karir militernya mulai menanjak ini pun Pierre bersikeras bahwa ia lebih suka tugas lapangan. Kepada sang kakak, Pierre pernah bilang, “Aku cuma mau bertugas sebagai ajudan selama setahun, tidak lebih. Kalau diperpanjang, aku akan menghadap Kasad untuk minta pindah”. Saat itu yang menjadi Kasad (Kepala Staf Angkatan Darat)/Menpangad (Menteri Panglima Angkatan Darat) adalah Letjen Ahmad Yani. Ternyata Pierre hanya bertugas sebagai ajudan selama 6 bulan karena ia keburu gugur ditangan gerombolan G30S.

Dikirim oleh Tipsiana Ina pada 30 September 2017

Ada satu fakta menarik yang selama ini tidak pernah diketahui publik. Mitzi membuka rahasia mengenai pekerjaan sampingan adiknya saat sudah menjadi ajudan Jenderal Nasution dan berpangkat Lettu (Letnan Satu). Setiap malam Pierre menjadi sopir traktor yang bertugas meratakan tanah di Monas. Saat itu, Monas belum jadi sekali. Pierre melakukan pekerjaan ini untuk menambah uangnya karena ia sangat ingin memiliki sebuah televisi (TV) dan Pierre sudah memesannya sejak jauh hari. Maklum, pada saat itu TV masih dianggap barang mewah dan sulit diperoleh. Untuk membelinya pun harus memesan dulu (indent).

Waktu adiknya, Rooswidiyati (Roos) hendak menikah dengan Jusuf Razak, Pierre memberikan sejumlah uang yang dibungkus koran kepada sang ibu, “Mami, ini sumbangan saya untuk pernikahan Roos”. Sang ibu terkejut, karena uang tersebut dalam bentuk dollar yang kalau dirupiahkan jumlahnya besar. Uang itu adalah uang yang ia kumpulkan dari gajinya saat menyusup ke Malaysia.

Roos ingat bahwa saat menikah pada 2 Juli 1965, dirinya dan Pierre saling berpandangan dalam waktu lama. Roos mengingat Pierre menanyakan kepada dirinya, apakah sudah siap berumah tangga. Pierre pun juga menasihati adiknya ini. Saat dirinya akan menandatangani surat nikah, mendadak Pierre menangis dan memeluknya. Ia pun menangis di dada Pierre sampai tak sanggup menandatangani surat tersebut. Mungkin karena ia menjadi mualaf saat menikah sedangkan seluruh keluarganya adalah Kristen taat. Roos masih ingat perkataan Pierre kepada suaminya, “Mas, aku titip adikku dan tolong jaga dia.” Ross mengingatnya seolah-olah sebagai firasat Pierre untuk “pamit” selama-lamanya, karena saat pernikahannya itulah dirinya terakhir kali melihat Pierre, kakak kesayangannya.

Sedangkan Mitzi, kakak sulung, masih sempat bertemu Pierre untuk terakhir kalinya sebulan sebelum peristiwa G30S. Saat itu Pierre mengantar dirinya yang hendak pulang ke Semarang, sampai Stasiun Gambir. Saat itu Pierre mengenakan celana teteron warna hijau dan kemaja kecoklatan. Ketika mereka cium pipi kiri kanan, Mitzi merasa pipi adiknya dingin. Mitzi tak pernah melupakan lambaian tangan Pierre ketika kereta api yang ditumpanginya bergerak meninggalkan stasiun. Itulah lambaian tangan terakhir yang ia lihat yang (mungkin) menjadi lambaian perpisahan selama-lamanya dari adik lelaki kesayangannya ini. Tapi, setelah itu mereka masih berbicara sekali melalui telepon.

Menurut kesaksian seseorang yang namanya ia lupa, Mitzi menceritakan bahwa pada sore hari 30 September 1965, Pierre masih sempat melihat sebuah paviliun di Jalan Jambu yang dikontrakkan karena adiknya ini memang sudah berencana berumah tangga dan menikahi Rukmini, gadis Jawa yang besar di Deli dan (saat itu) tinggal di Medan.

Mengenai kisah cinta adiknya ini, Mitzi ingat bahwa Pierre pernah mengirimkannya surat dalam bahasa Jawa. Dalam surat tersebut Pierre menceritakan bahwa ia sudah mendapat jodoh dan meminta doa restu mengenai niatnya untuk menikahi Rukmini.

Pada 31 Juli 1965 Pierre menyempatkan diri menemui kekasihnya dan calon mertuanya saat menemani Jenderal Nasution perjalanan dinas ke Medan. Dalam pertemuan dengan keluarga calon mertuanya ini disepakati bahwa Pierre akan menikah dengan Rukmini pada November 1965. Itulah hari sang kekasih bertemu dengan Pierre untuk terakhir kalinya.

Mitzi merasakan satu hal lain yang cukup ganjil. Biasanya, Pierre pasti akan menelepon walaupun sedang sibuk bertugas dimanapun untuk mengucapkan selamat apabila salah satu anggota keluarga berulang tahun. Namun anehnya, pada hari itu, 30 September 1965 yang merupakan ulang tahun sang ibu, ia tidak menelepon untuk mengucapkan selamat.

Tangisan dan Ratapan Ibunda untuk Pierre
Jenazah Pierre dan para Pahlawan Revolusi lainnya disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat di Jalan Medan Merdeka Utara setelah divisum dan dibersihkan di RSPAD Gatot Subroto. Pemerintah mengirimkan pesawat khusus untuk menjemput keluarga Pierre di Semarang pada 5 Oktober 1965.

Ketika melihat peti jenazah Pierre, sang bunda meratap sejadi-jadinya. “Pierre..oh Pierre, mijn jongen, wat is er met jouw gebeurd?” (Pierre..oh Pierre, anakku, apa yang terjadi denganmu?).

Baju Tendean saat diculik dan terbunuh (credit: ayiqurrota.blogspot.co.id)

Kematian Pierre ini membuat semangat hidup sang ibu menurun. Makin lama kesehatannya ikut menurun. Ny. Cornet Tendean masih belum bisa menerima kenyataan bahwa putra kesayangannya itu telah tiada.

Apabila sang ibu tiba-tiba teringat Pierre, ia selalu memarahi, menyalahkan dan menghujat Mitzi karena Mitzilah satu-satunya dalam keluarga yang berani mendukung keinginan sang adik untuk menjadi tentara. Karena masih belum bisa menerima kenyataan tersebut, sang ibu sering membaca semua surat-surat yang dikirimkan Pierre. Surat-surat tersebut diurutkan oleh sang ibu sesuai tanggalnya. Berbeda dengan sang ibu, sang ayah bisa menerima kenyataan dan menguasai diri walau sebenarnya beliau sangat terpukul kehilangan putra satu-satunya ini. Sang ayah pun, walau sedih, tetap berusaha menghibur istrinya yang sering tak bisa mengendalikan diri kala tiba-tiba teringat Pierre.

Ketika sakitnya masih belum parah, Ny. Cornet Tendean masih sempat berziarah ke makam Pierre. Petugas Taman Makam Pahlawan Kalibata bercerita kepada Mitzi bahwa saat berziarah itu sang ibu memborong bunga anggrek sebanyak-banyaknya sehingga seluruh makam Pierre tertutup oleh anggrek.

Karena selalu teringat Pierre, kesehatan Ny. Cornet Tendean makin menurun sehingga pada pertengahan Agustus 1967, ia harus dirawat di rumah sakit.

Suatu saat ketika Roos, adik Pierre sedang menemani sang ibu di rumah sakit pada 19 Agustus 1967, mendadak sang ibu berkata-kata dalam Bahasa Belanda seolah-olah ia melihat Pierre datang menjenguknya di samping ranjangnya. “Pierre.. Pierre.. aku sudah tidak tahan lagi”. Setelah berkata-kata demikian, Ny. Cornet Tendean menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Jauh-jauh hari sebelumnya, sang ibu pernah berpesan kepada Mitzi, agar kelak apabila ia meninggal, agar jenazahnya ditutupi dengan selimut yang pernah dipakai Pierre. Dan Mitzi pun melaksanakan pesan tersebut. Sedangkan sang ayah, Bapak A.L. Tendean wafat 7 tahun kemudian pada 19 Juli 1974.

Mitzi dan adiknya, Roos, tak pernah melupakan masa-masa Pierre bersama mereka. Semua barang yang pernah menjadi milik Pierre, mereka simpan sebagai kenang-kenangan kecuali pakaian yang dikenakan Pierre saat ia gugur karena disimpan di museum yang berada di Komplek Monumen Pancasila Sakti tempat Pierre gugur.

(Intisari September 1989 dan sumber-sumber lain yang terpercaya)

Jumat, 29 September 2017

Gugur Bunga di Taman Bakti, Lagu Nasional Paling Menyanyat Hati

Tipsiana.com - Tadi malam adalah malam yang spesial. Setelah 19 tahun tak lagi ditayangkan, film Pengkhianatan G30S/PKI kembali bisa ditonton di salah satu stasiun televisi nasional, TvOne. Pro kontra tentang pantas tidaknya film tersebut diputar kembali selesai sudah, penasaran publik terpuaskan dan kita kembali bisa mengenang sejarah kelam negeri ini lewat film kolosal tersebut.

Ada satu yang mencuri perhatian dari penayangan film ini. Di bagian akhir film, penonton benar-benar terbawa suasana batin yang dalam dan kelam ketika melihat bagaimana para Jenderal yang diculik dan dibunuh, satu-persatu diangkat dari sumur tua di kawasan Lubang Buaya. Momen itu begitu menyanyat hati dengan alunan lagu "Gugur Bunga di Taman Bakti" yang mengiringi pidato Mayjen Soeharto dan Jenderal A.H. Nasution.


Bila kita ingat lagu "Untuk Kita Renungkan" ciptaan Ebieth G Ade sebagai 'lagu wajib' ketika Indonesia sedang tertimpa bencana alam, maka lagu yang kemudian lebih dikenal dengan judul singkat "Gugur Bunga" ini bisa dikatakan adalah lagu wajib yang selalu mengalun pada peristiwa-peristiwa mengenang pahlawan atau kehilangan tokoh nasional. Apa latar belakang Ismail Marzuki menciptakan lagu ini hingga bisa menebar aura kesedihan yang begitu kental?



Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman bakti
Di haribaan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

Membaca liriknya saja kita telah merasakan kesedihan yang dalam. Ismail Marzuki benar-benar mencurahkan seluruh perasaannya kedalam lirik dan nada lagu. Ia mulai menggubah lagu "Gugur Bunga di Taman Bakti" pada tahun 1945, sebagai lagu penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan yang gugur di medan tempur selama masa Revolusi Nasional Indonesia.

Lagu ini menceritakan tentang kematian seorang prajurit dan perasaan sedih orang yang ditinggalkannya. Ia mewakili perasaan ribuan keluarga pejuang yang kehilangan orang terkasihnya. Butuh waktu lama bagi Ismail Marzuki untuk menggubah lagu ini. Konon ia mengurung diri di kamar cukup lama hingga lagu selesai.

Isolasi diri Ismail Marzuki berbuah manis, lagu ciptaannya melegenda dan hingga hari ini masih tetap menjadi lagu nasional paling syahdu yang dimiliki Indonesia.


Dalam buku 'Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965', dikisahkan lagu 'Gugur Bunga' inilah lagu yang terakhir di dengar oleh Brigjen DI Panjaitan pada tanggal 30 September 1965 malam. Saat itu anak sulungnya, Catherine, merupakan salah seorang anggota paduan suara Sekolah Tarakanita yang menyanyikannya di Istora Senayan dan ditayangkan di televisi.

Di ruang tamu rumahnya, DI Panjaitan bersama keluarga mendengarkan lagu tersebut dalam diam termenung. "Itu, kan lagu tentang para pahlawan yang gugur di medan tempur. Coba bayangkan bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan," salah satu putrinya, Masya Arestina, berkomentar. Panjaitan menjawab singkat, "Ya sedih, lah." Dan tak disangka kesedihan tersebut hinggap di keluarga DI Panjaitan pada 1 Oktober 1965 dini hari. DI Panjaitan ditembak dan jenazahnya dibawa ke Lubang Buaya oleh anggota pasukan Cakrabirawa yang berkhianat.

Dikirim oleh Tipsiana Ina pada 30 September 2017


Lagu Gugur Bunga menjadi sangat fenomenal. Ia tiap tahun diperdengarkan dalam upacara peringatan kemerdekaan Indonesia. Menurut seorang veteran pembela kemerdekaan, lagu Gugur Bunga juga dilantunkan sebagai sambutan ketika pasukan TNI baru pulang dari medan perang Timor Timur, dimana banyak tentara yang jadi korban.

Lagu ini seolah menampar kita dengan kedalaman makna liriknya agar kita terus berjuang. Bertanya tentang apa yang telah kita lakukan untuk negeri tercinta. Dan Mengajarkan kepada kita bahwa apa yang telah kita korbankan untuk negeri ini tak sebanding dengan pengorbanan para pahlawan yang telah memberikan jiwa raganya untuk Indonesia.