Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2017

Hamka Muda Itu Bernama Ustad Abdul Somad

Tulisan sederhana ini bukan bermaksud membanding-bandingkan, melebihkan yang satu mengurangi yang lain, memuji-muji dan mengangkat yang satu merendahkan yang lain. Antara pribadi Buya Hamka (1908-1981) dengan seorang ustad yang sekarang sedang naik daun di dunia youtube, bernama Ustad Abdul Somad (selanjutnya ditulis UAS). Melainkan hendak menampilkan nilai-nilai apa saja yang bisa kita petik dari kepribadian kedua alim tersebut, untuk dijadikan teladan bagi umat.


Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), meraih gelar Dr HC (doktor honoris causa) atas pemberian universitas Islam tertua di dunia, Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Berasal dari keluarga ulama pula, bahkan ayahnya pun mendapatkan gelar Dr HC dari universitas yang sama. Ayah dan anak yang sama-sama meraih gelar kehormatan dari kampus Islam ternama. Sehingga ayah Hamka yang bernama Abdul Karim Amrullah, oleh masyarakat kampungnya di Maninjau-Agam, dipanggil dengan sebutan “Inyiak Deer” (lebih lanjut baca buku “Ayahku” karya Hamka, 1982).

Pribadi Hamka adalah seorang ulama cum sastrawan dan politisi, sudah menjadi sosok panutan umat Islam di zamannya. Tak hanya di Indonesia, nama besar beliau menggema di Asia Tenggara. Bahkan mantan perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak kala meninggalnya Buya Hamka mengatakan, “Hamka tidak hanya milik bangsa Indonesia, tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.”

Buya Hamka telah menunjukkan kemampuan menulisnya sejak usia 17 tahun. Sejak itu sampai Buya meninggal, beliau sudah menulis 118 buku; bertemakan agama, sejarah, novel, biografi, adat Minangkabau, politik, ideologi, negara, filsafat dan tafsir Alquran yang berjilid-jilid (Rusydi Hamka, 2017). Sungguh ini bentuk produktivitas yang luar biasa, di tengah mesin cetak, perangkat penerbitan dan mesin ketik belum secanggih dan sebanyak zaman kini.

Lebih mengagumkan lagi, Buya adalah sosok otodidak dalam proses perkembangan intelektualnya yang multidisplin dan unik. Otodidak dalam artian, beliau tidak pernah duduk di bangku sekolah formal sampai jenjang universitas (Irfan Hamka, 2013). Bahkan SD pun hanya dialaminya selama 3 tahun, lalu berhenti.

Walaupun untuk pengetahuan agama, modal dasar dari ayahnya, seorang ulama pembaharu Islam di Indonesia dan pendiri Sumatera Thawalib (lebih lanjut lihat “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942”, Deliar Noer, 1982) sudah cukup kiranya sebagai pijakan dasar dalam memahami khazanah keilmuan Islam.

Hamka kemudian dikenal dengan sikapnya yang gigih, tegas dan lurus dalam berprinsip. Ketika menjabat sebagai ketua umum MUI pusat pertama tahun 1975-1981, Hamka dengan tegas mengeluarkan fatwa terkait pelarangan (haram) perayaan Natal bersama di masyarakat. Tentulah fatwa ini menimbulkan gejolak, khususnya bagi pemerintah.

Tapi, Hamka tetaplah Hamka, yang tegak punggungnya, berpijak pada prinsip yang lurus dan tak bisa dibeli. Sebagai seorang ulama, beliau sering berpetuah, “Menjadi ulama itu seperti kue bika, dipanggang dari atas (intervensi/kemauan pemerintah-red), dipanggang dari bawah (aspirasi umat-red).” Prinsip lurusnya Buya tadi dibuktikan dengan pengunduran dirinya sebagai ketua umum MUI pusat, karena perbedaan pandangan dengan pemerintah Soeharto.

Setiap hari setelah shalat Subuh berjamaah, Buya selalu memberikan kuliah Subuh di depan para jamaahnya, yang memadati Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru. Seperti yang diungkapkan wartawan senior Rosihan Anwar (1922-2011). “...Di samping itu, pengajian dan kuliah Subuh berkembang di berbagai masjid. Akan tetapi, agaknya kuliah Subuh yang paling mendapat minat, ialah yang dipimpin oleh Hamka sendiri di Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru. Tafsiran Alquran yang diberikannya di kuliah Subuh itu memperoleh pendengar yang banyak...” (Rusydi Hamka, hal. 181).

Jamaah selalu memadati pengajian kuliah Subuh tersebut. Model ceramahnya sangat klasik. Diawali ceramah, selepas itu para jamaah diberikan kesempatan bertanya, baik secara langsung maupun melalui kertas yang sudah ditulis pertanyaan. Mendengar ceramahnya, kita akan mudah ingat karena bahasa dan logat Buya yang khas, suaranya yang agak parau, ditambah dengan seringnya Buya mengutip pepatah-petitih tradisional Minang (Melayu), jika hendak menerangkan sebuah perkara.

Ditambah lagi, wawasan keilmuan Islam yang dalam, Buya memang mampu membuat suatu soalan menjadi terlihat mudah, tapi bukan untuk menyepelekan. Ketika menjawab perihal hukum fiqh yang tinggi tingkat khilafiyahnya, Buya menerangkan ragam kalam ulama, seraya tak lupa mengutip ayat Quran dan Hadist. Buya adalah sosok yang sangat toleran terhadap perbedaan fiqh, masalah-masalah furu’iyah.

Kisah yang cukup dikenal masyarakat adalah, di saat Buya bertamu ke kediaman ulama Betawi KH Abdullah Syafii di daerah Tebet Jakarta Selatan. Kala itu Buya diminta menjadi imam shalat Subuh oleh sohibul bait, Buya lantas maju menjadi imam. KH Abdullah Syafii berkeyakinan qunut Subuh hukumnya sunah ab’ad dalam Madzhab Syafii, hukumnya seperti duduk tahiyat awal ketika salat Zuhur/Ashar/Maghrib/Isya.

Sebagai tokoh Muhammadiyah yang berkeyakinan tidak ada qunut Subuh, namun dengan senang hati Buya melakukan qunut Subuh demi menghormati sang tuan rumah. Buya menghormati orang yang berbeda prinsip fiqh dengan dirinya, bukan dengan cerita, tetapi melalui tindakan nyata.

Begitu pula ketika K. Abdullah Syafii bertamu ke Buya di Masjid Al-Azhar pada suatu Jumat. Ketika hendak khutbah, Buya mempersilakan kiai gaek ini menjadi katib Jumat, padahal jadwal katib sebenarnya adalah Buya sendiri. Bahkan, Buya meminta muadzin untuk azan Jumat sebanyak 2 kali, sebagaimana tradisi fiqh ulama-ulama madzhab Syafii. Semua itu Buya lakukan karena menghargai perbedaan madzhab fiqh, perbedaan yang sifatnya furuiyah belaka, bukan prinsip (ushul) baginya.

Begitulah wajah toleransi Buya terhadap perbedaan khilafiyah. Sebab baginya, persatuan umat lebih penting dan mendesak ketimbang memperlebar jurang perbedaan fiqh. Bahkan terhadap “musuh” politiknya sendiri Buya Hamka memperlakukannya dengan kasih sayang. Singkat cerita, Muhammad Yamin adalah sosok tokoh nasional yang sangat membenci Buya Hamka, karena Buya yang Masyumi dianggap mendukung (terlibat) pemberontakan PRRI di Sumatera Tengah.

Tapi, ketika Yamin sedang sakit-sakitan hendak meninggal, dia berpesan pada Chaerul Saleh agar Hamka didatangkan ke hadapannya. Dia hendak meminta maaf. Setelah Hamka datang, Yamin pun meminta maaf, sambil memegang erat tangan Buya. Sambil keduanya berurai air mata, Buya memaafkan segala kesalahan Yamin itu.
Dalam wasiatnya, Yamin meminta agar Hamka membantu proses pemakamannya di Nagari Talawi Solok, kampungnya. Dia khawatir sebab orang kampung membencinya, dikarenakan Yamin sedari dulu anti (memusuhi) PRRI dan Masyumi.

Begitu pula ketika Soekarno hendak meninggal, dia meminta agar Buya yang mengimami shalat jenazah jika dia meninggal kelak. Wasiat inipun dipenuhi Buya dengan ikhlas karena Allah. Padahal, Hamka dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama 2 tahun lebih oleh rezim Soekarno. Bahkan di penjara yang berpindah-pindah itu Buya mengalami penyiksaan. Tapi, tidak ada dendam kesumat sedikitpun, benar-benar luas hatinya (lihat “Pribadi dan Martabat Buya Hamka”, Rusydi Hamka, 2017).




Sekarang kita berlanjut kepada figur Ustad Abdul Somad (lebih lanjut ditulis UAS). UAS adalah sosok ustad yang saat ini sedang memuncak pamornya, khususnya bagi netizen yang akrab dengan media sosial seperti youtube, facebook (fb) dan instagram.

UAS adalah seorang sarjana lulusan S-1 Universitas Al-Azhar dan S-2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko. Pria campuran Melayu Deli dan Riau, saat ini, tinggal di Pekanbaru dan berprofesi sebagai dosen PNS di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Publik mungkin menilai, terlalu prematur untuk menyandingkan Hamka dan Abdul Somad. Tapi bagi saya, taklah berlebihan jika mengatakan Hamka dan UAS sama-sama menjadi panutan umat. Mengajarkan umat untuk menghargai perbedaan, toleran, ulama yang lurus, tegas dan merangkul semua kelompok Islam. Mereka mengajarkan kita semua nilai itu.

Di era teknologi informasi yang makin canggih, pemanfaatan media sosial internet menjadi keniscayaan. Puncak gelombang peradaban umat manusia dengan hadirnya abad informasi di abad 21, demikian yang ditulis futurolog Alvin Toffler (lihat “Future Shock”, Alvin Toffler, 1970).

Produksi, distribusi, penggunaan sampai pada perekayasaan konten media informasi adalah wajah peradaban manusia modern sekarang. Otomatis pemanfaatan media sosial sebagai sarana efektif dalam berdakwah adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan dakwah modern, di era informasi-komunikasi kepada masyarakat yang cakap juga dalam menggunakannya, yang disebut netizen.

Terkenalnya UAS satu tahun terakhir ini, adalah fenomena dakwah Islam yang sebenarnya bukan hal yang baru. Sederetan nama-nama ustad (dai/mubalig) kondang, yang sudah lama terkenal jauh sebelum UAS juga pernah terjadi.

Mulai dari yang senior seperti KH. Zainuddin MZ, KH. Anwar Sanusi dan Aa Gym sampai kepada Habib Rizieq, Habib Munzir Al Musawwa, Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansur, Ustad Jefri Al Bukhori, Ustad Wijayanto, Mamah Dedeh, Ustad Solmed sampai pada Ustad Maulana. Umumnya mereka dikenal melalui media tv nasional.

Beberapa nama dai di atas bisa dikategorikan sebagai “ustad seleb”, yaitu para mubalig yang dikenal publik berdakwah melalui media tv, sering muncul di tv, memiliki acara khusus di sebuah stasiun tv, bahkan ramai pemberitaan dirinya (keluarga) di acara-acara infotainment misalnya (lihat “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online”, Greg Fealy dkk, 2012).

Uniknya kemunculan UAS sampai saat ini bukan karena infotainment, bukan dari media tv melainkan dari media sosial. Berbagai ceramah UAS bisa diakses oleh publik melalui youtube dan fb.

Pertanyaan kemudian adalah, “Apa penyebab sehingga dakwah-dakwah UAS selalu dinikmati, ditunggu-tunggu bahkan dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, di setiap beliau berdakwah? Apa gerangan yang menjadi magnet penarik, keunikan, sehingga jamaah sampai ke angka 13 ribu viewers lebih menonton secara live streaming, di setiap ceramah UAS melalui fb?

Bahkan dalam ceramah-caramahnya, UAS sering menyampaikan pada jamaah bahwa jadwal “manggung” ceramah beliau sudah full sampai Desember 2018, baik di level lokal, nasional maupun internasional. Sebagai penceramah yang tak lahir dari produk infotainment dan entertainment tv, tentu  ini adalah fenomena yang menakjubkan dan unik.

Dikenal melalui youtube yang videonya dishare oleh jamaah. Bukan karena berita gosip infotainment media tentang dirinya, tetapi lebih karena luas dan dalamnya pemahaman keislaman UAS. Dikenal bukan karena skenario tv/rekayasa media mainstream, melainkann karena kehendak masyarakat Islam, yang selalu membagi video-video ceramahnya secara online.

UAS hadir pada saat yang tepat, di tengah ghiroh umat Islam yang haus ilmu agama, pengetahuan tentang syariat Islam. Ditambah menguatnya dakwah-dakwah dari sekelompok ustad yang mengidentifikasikan diri/kelompoknya dengan sebutan “Salafi”, yang terkadang isi ceramahnya cenderung memperlebar jurang khilafiyah di tengah keragaman umat dalam praktik ibadah (fiqh). Bahkan acap kali ustad-ustad tersebut dengan berani tanpa tedeng aling-aling, langsung melabeli bid’ah setiap praktik peribadatan muslim Indonesia, yang sudah mentradisi.

Tentu model dan gaya dakwah seperti di atas akan lebih mudah membuat umat terpecah-belah. Padahal sebagai muslim diwajibkan oleh Allah untuk menjaga persatuan dan berpegang teguh pada tali Allah, jangan bercerai-berai. Fenomena dakwah yang serupa ini juga berpotensi melahirkan konflik horizontal di internal Islam sendiri. UAS tampil sebagai antitesis model dan gaya dakwah yang serba menyalahkan dan membid’ahkan tersebut.

Tampilan dakwah yang berisi, luasnya wawasan perbandingan madzhab beliau (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali), penuh dengan guyonan cerdas ditambah logat Melayu yang khas. Menerangkan suatu perkara agama secara tegas, jelas, berdasar dalil dan selalu disisipi humor. Sehingga jamaah pun terhibur, tapi ilmunya tetap didapat.


UAS juga selalu memberikan pilihan kepada jamaah, dalam suatu perkara ibadah yang domainnya ilmu fiqh misalnya, seperti masalah qunut Subuh. UAS dengan terbuka dan gamblang memberikan pandangan tiap-tiap madzhab ulama akan hukum qunut Subuh itu. “Jangan berkelahi hanya masalah khilafiyah!”, demikian nasihat UAS yang acap kali disampaikan.

Urusan produktivitas kepenulisan, UAS sudah menulis buku-buku; “37 Masalah Populer” (2014), “99 Tanya Jawab Seputar Shalat” (2013), “33 Tanya Jawab Seputar Qurban” (2009), dan “30 Fatwa Seputar Ramadhan-terjemahan” (2011). Semua buku karya UAS tersebut bisa diakses secara gratis, baik di internet (ebook-pdf) maupun melalui aplikasi appstore/playstore. Sangat mengagumkan, UAS mempermudah umat belajar Islam secara praktis dan efektif.

Makanya taklah heran, banyak jamaah yang berujar jika UAS adalah Hamka zaman sekarang. Sebab, UAS mengedepankan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan madzhab, menjunjung tinggi persatuan umat dan selalu menekankan agar umat Islam Indonesia melek politik dan berdikari dalam ekonomi. UAS selalu menyuarakan Islam dan politik tak bisa dipisahkan.

Mayoritas umat Islam di Indonesia secara ekonomi adalah kelas menengah ke bawah. Baginya perekonomian umat adalah mutlak tanggung jawab bersama umat Islam. Makanya UAS mengingatkan tentang pemberdayaan perekonomian umat dengan membangun dan mengembangkan sistem ekonomi syariah, hidupkan bank-bank syariah.

Momentum “persatuan umat” dengan aksi damai 411, 212 dan seterusnya, juga berpengaruh terhadap kesadaran umat akan politik. Ini berdampak terhadap popularitas UAS. Baginya syariat Islam hanya akan berjalan dengan baik, jika umat Islam sadar politik, cerdas dalam berpolitik. Satu-satunya jalan agar syariat Islam bisa diimplementasikan di Indonesia yang demokratis ini adalah melalui kekuasaan.

Makanya, bagi beliau pilihlah calon-calon pemimpin, kepala daerah dan legisltaif yang tidak alergi terhadap aspirasi umat. 3 (tiga) poin utama sebagai fokus politik Islam (khususnya di daerah melalui Peraturan Daerah) baginya adalah: 1) integrasikan mata pelajaran bercirikan Islam di sekolah umum (ilmu fiqh, tarikh, aqidah dan lainnya), 2) kepala daerah membuat aturan tentang zakat di daerahnya dan 3) kepala daerah diminta membuat Perda-perda yang bernuansa Islam.

Baginya semua cita-cita politik Islam tersebut, hanya bisa dicapai jika umat Islam yang berkuasa. Tapi jalan untuk mencapainya harus dengan cara-cara demokratis dan konstitusional sesuai hukum, tidak menggunakan kekerasan katanya.

Jadi taklah berlebihan, jika respons umat Islam akan kehadiran dakwah UAS saat ini sangat antusias. Hamka muda telah lahir, walaupun keduanya memiliki perbedaan. Hamka pernah menjadi pengurus Muhammadiyah, sedangkan Ustad Abdul Somad pernah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (Lembaga Bahtsul Masail) PWNU Riau.

UAS bergaul dengan kelompok Islam manapun seperti Muhammadiyah, Jamaah Tabligh, Tarbiyah, Perti, Persis, Salafi bahkan FPI, MMI dan HTI yang sudah dibubarkan pemerintah saat ini. UAS juga bercerita, pernah menjadi pengurus masjid Muhammadiyah di Pekanbaru selama 2 tahun. Padahal secara madzhab fiqh, dirinya berbeda dari saudara-saudara di Muhammadiyah. Tiap kali diminta menjadi imam di masjid Muhammadiyah tersebut, dengan rendah hati UAS selalu menolaknya. Dia memilih untuk menjadi makmum saja, karena menghormati jamaah Muhammadiyah.

UAS pun sering mengutip dan menceritakan kisah heroisme dan keulamaan Hamka dalam ceramahnya. UAS mengatakan, dia mengidolakan sosok Hamka, seorang ulama pejuang. Banyak kemiripan keduanya. Sama-sama memperoleh gelar dari Al-Azhar Kairo, dan produktif menulis.

Memiliki kemiripan dalam berceramah, bergaya khas, logat Melayu yang kental, suka berpepatah-petitih Melayu (Minangkabau), suara yang parau dan ceramah yang selalui diikuti oleh tanya jawab memakai media kertas yang tumpukannya melebihi tebalnya skripsi. Jamaahnya berduyun-duyun, selalu memadati masjid saat mendengar dakwahnya. Itulah beberapa kemiripan Buya dan UAS.

Terpenting adalah Hamka dan UAS sama-sama mengajarkan kita umat Islam, tentang indahnya perbedaan, pentingnya menjaga persatuan umat, kesadaran politik bernegara dan paling utama adalah tidak menonjolkan khilafiyah.
Persatuan umat yang mesti dikedepankan. Hamka dan Ustad Abdul Somad membuktikannya dengan tindakan. Ini mendesak dilakukan, karena jika umat terus berkonflik karena urusan khilafiyah, maka persatuan umat Islam hanya akan tinggal utopia belaka.

Semoga Allah senantiasa meridhoi almarhum Buya Hamka dan memberikan kemudahan dalam berdakwah bagi Ustad Abdul Somad, Sang Hamka Muda...!

Oleh: Satriwan Salim  Pengajar Labschool Jakarta-UNJ/Peneliti PUSPOL Indonesia, dalam tulisan berjudul "Buya Hamka Dulu, Ustaz Abdul Somad Sekarang" di situs Republika.co.id

Kamis, 09 November 2017

Momen Haru Saat Ayah Korban Maafkan dan Peluk Pembunuh Anaknya

Ayah dari seorang supir Muslim pengantar pizza yang jadi korban pembunuhan, mengampuni dan memeluk pelaku yang dijatuhi hukuman penjara karena berperan dalam kematian anaknya.

Pada persidangan yang dilaksanakan di pengadilan Lexington, Kentucky, AS pada Selasa 7 November 2017 kemarin, Ayah korban, Dr. Abdul Munim Sombat Jitmoud memeluk terpidana, Trey Alexander Relford, yang menangis menyesali perbuatannya.


Sang ayah mengatakan, ia memaafkan Trey karena mengikuti ajaran Islam. "Islam mengajarkan bahwa Tuhan takkan memaafkan seseorang sebelum orang tersebut mendapatkan maaf dari orang yang disakitinya," kata Abdul Munim di depan sidang. "Pintu kesempatan untuk mendapat pengampunan dari Tuhan telah terbuka... Jadi, dapatkanlah pengapunanNya. Kamu telah memiliki babak baru untuk bisa hidup lebih baik."

Pada malam bulan April 2015, Salahuddin Jitmoud sedang mengantarkan pesanan pizza terakhir sebagai supir Pizza Hut. Naas, ia dirampok dan ditikam hingga tewas di sebuah kompleks apartemen di Lexington, Kentucky. Tubuhnya ditemukan terkapar di pelataran kompleks.

Tiga orang ditahan, tapi sidang hanya memvonis Relford. Ia terbukti sebagai perencana perampokan walau menolak membunuh Salahuddin.

Relford akhirnya divonis 31 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, dan bukti yang menunjukkan bahwa ialah yang menikam Salahuddin.


Ayah Salahuddin mengatakan bahwa ia telah memaafkan Relford.

"Anakku, keponakanku, aku memaafkanmu atas nama Salahuddin dan ibundanya."

"Saya tidak menyalahkanmu atas kejahatan yang telah kau lakukan, saya tidak marah kepadamu telah menjadi bagian dari yang menyakiti putra saya." 

"Saya marah pada Iblis, saya salahkan Iblis, yang menyesatkan kamu dan membuat kamu melakukan kejahatan mengerikan ini." 

"Saya sungguh merasa iba pada orangtua kamu, mereka membesarkan kamu dan ingin kamu menjadi sukses. Kesuksesan kamu adalah kesuksesan mereka, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan mereka." 

"Sekarang mereka harus menangis akibat kejahatan mengerikan (pembunuhan) yang telah kamu lakukan."

"Pemaafan dan pengampunan adalah anugerah terbesar dalam Islam. Saya harus mengeluarkan semua perasaan saya untuk memaafkan orang yang telah menjahati keluarga saya."

Hakim tampak terisak saat menutup sidang, sementara dengan menangis si pembunuh meminta maaf atas perbuatannya. Diiringi tangis ibu pelaku, Relford kemudian dipeluk erat oleh Abdul Munim. Sang ayah korban lalu berbisik di telinga Relford, "Setelah nanti keluar dari penjara, berbuat baiklah".

Sumber: CNN

Rabu, 08 November 2017

Di Masa Kejayaan Kerajaan Islam, Burung-burung Punya Istana Sendiri

Kerajaan Ottoman merupakan kerajaan Islam terbesar dan terpanjang dalam sejarah dunia. Berdiri pada tahun 1299, kerajaan ini bertahan hingga 600 tahun kedepan. Pada 1453, Ottoman bahkan mampu menaklukkan Konstantinopel, ibukota kekaisaran Byzantium dan menggantinya menjadi Istanbul.

Hingga hari ini, jejak kerajaan Islam tersebut masih dapat dilihat lewat peninggalan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur megah. Yang tak kalah menarik, elemen penting pada jejak peninggalan arsitektur kerajaan Ottoman di Turki adalah adanya istana burung sebagai bangunan tambahan yang menempel di dinding luar berbagai struktur kota.


Sarang burung yang menempel di berbagai Masjid, penginapan, perpustakaan, sekolah dan air mancur tersebut bukanlah bangunan dengan struktur beton sederhana. Ia merupakan sebuah miniatur istana mulai dari satu lantai hingga bangunan bertingkat tiga dengan ornamen rumit yang indah.

Masing-masing dirancang dengan estetika desain serupa dengan bagunan-bangunan besar di kerajaan, sekaligus menyediakan tempat berteduh bagi burung pipit, burung layang-layang, dan burung merpati sambil mencegah kotoran burung merusak dinding-dinding bangunan sekitarnya.



Selain sebagai sangkar burung, istana burung juga memiliki pandangan keagamaan. Mereka beranggapan, dengan dibuatkan sarang mungil yang bagus, burung-burung tersebut pun akan membalasnya dengan perbuatan baik juga.


Dengan perhataian dan perawatan, bangunan tersebut mendorong kecintaan pada hewan di masyarakat Turki, warga bahkan mengadopsi beberapa julukan untuk rumah tersebut selama bertahun-tahun termasuk memakai istilah seperti "kuş köşkü" (paviliun burung), "güvercinlik" (sarang merpati) dan "serce saray" (istana burung gereja).



Saat ini, hanya tinggal beberapa saja dari istana-istana burung yang tersisa. Meski begitu, istana mungil tersebut telah mengakar dalam sejarah Turki. Hampir di setiap kota di negara Turki memiliki istana burung, contoh tertua adalah sebuah sarang yang dibangun di abad ke-16 yang menempel di jembatan Büyükçekmece di Istanbul, hingga hari ini masih utuh terjaga.


Minggu, 29 Oktober 2017

Seuntai Nasihat Untukmu Wanita

Engkau, wahai wanita, adalah anugerah yang diciptakan oleh Allah dengan sangat istimewa. Engkaulah yang membuat kami para pria merasa damai karena engkau selalu menemani. Engkaulah yang membuat anak-anak kita menjadi anak yang berbudi pekerti mulia dan berangsur-angsur tumbuh menjadi manusia sholeh dan sholeha.

Engkaulah yang berperan penting untuk menentukan baik buruk suami dan anak-anak kita. Bahkan lewat tangan lembut Andalah kami semua menjadi manusia berarti.


Kami para lelaki tidak perlu lagi mengajari apa yang harus Anda jalani, namun tak salah bila kami mengingatkan bahwa inilah kelebihan Anda yang akan selalu kami, para lelaki, kagumi.

Jadilah wanita yang penyayang dan lembut dan janganlah menjadi wanita yang kasar dan keras.

Jadilah wanita yang berwajah berseri dan selalu tersenyum dan janganlah menjadi wanita yang bermuka masam dan selalu cemberut.

Jadilah wanita yang bijaksana dan sabar dan janganlah menjadi wanita yang plin-plan dan temperamental.

Jadilah seorang ibu yang menghangatkan dan janganlah menjadi wanita yang dingin hingga dijauhi.

Jadilah wanita yang dicintai dan dirindukan dan jangan menjadi wanita yang lalai dan dilalaikan.

Jadilah wanita mukminah dan bersyukur dan janganlah menjadi wanita kafir dan kufur.


Jadilah wanita pencemburu yang dicintai dan jangan menjadi wanita pencemburu yang menghancurkan.

Jadilah wanita pengatur rumah tangga yang qana'ah dan janganlah menjadi wanita yang mubadzir.

Jadilah wanita penghuni surga dan janganlah pernah menjadi wanita penghuni neraka.

Jadilah sahabat wanita yang dicintai dan janganlah menjadi musuh yang dibenci.

Jadilah wanita yang pendiam dan lemah-lembut dan janganlah menjadi wanita yang cerewet dan kasar.

Jadilah wanita seperti, Khadijah,Zainab dan Aisyah, Dan janganlah menjadi seperti istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh.

Jadilah wanita seperti wanita yang ALLAH suka melihatnya dan janganlah menjadi wanita seperti wanita yang setan suka melihatnya.

Sumber : Inspirasi dari status FB Agus Friyanto

Jumat, 06 Oktober 2017

Baru Berumur 8 Tahun, Anak Ini Minta Masuk Islam

menghampiri kita. Bahkan hidayah tak memandang usia. Ini dibuktikan dari sebuah peristiwa dimana anak yang baru berumur 8 tahun berani meminta kepada orangtuanya untuk memeluk Islam. Dikutip dari Tribun Pontianak, inilah kisah bocah kecil yang mendapat hidayah masuk Islam.

Eriyanti (44), ibu dari Yogi Setiady bocah 8 tahun asal kecamatan Delta Pawan Ketapang yang memilih untuk menjadi mualaf menceritakan kisah Yogi sejak kecil. Ia mengatakan ketika baru pandai berbicara Yogi memang suka pada hal-hal terkait Islam. Misalnya ketika melihat Masjid menurutnya Yogi pasti senang dan selalu menyebut ada alaaba. "Maksudnya itu Allahu Akbar,” tuturnya.

Kredit foto: tribunpontianak.co.id/Subandi

Sedangkan ketika diajak ke tempat ibadahnya Yogi selalu menolak. Pernah ketika dibawa Yogi menangis dan ngajak keluar mau pulang. Kemudian ketika dibawanya pulang ke kampung halamannya di hulu yang banyak anjing dan babi. Menurutnya Yogi juga tidak suka dan takut tersentuh anjing atau babi. Bahkan ketika mereka makan daging babi tapi Yogi sejak kecil pun tidak pernah mau makan babi.

Namun ketika ada tetangganya di Ketapang ada acara seperti selamatan. Maka Yogi selalu mengajaknya untuk pergi ke acara tersebut. “Katanya ayo ma kita pergi ke tempat orang amin-amin. Saya tanya di mana, katanya itu menunjukkan tempatnya, ternyata tempat orang Muslim selamatan gitu,” kenangnya.




Kemudian ketika awal Yogi masuk sekolah meminta izin kepadanya untuk ikut teman-temannya mengaji dan solat. Lantaran merasa berbeda keyakinan ia awalnya melarang Yogi. “Saya bilang tak boleh, kita kan beda, tak sama, saya bilang gitu,” ungkapnya.

“Tapi dia bilang mau ikut Islam saja. Di rumah ini kan ada handuk sering dibuatnya alas untuk sajadah, dia belajar sembahyang sendiri. Bahkan dia selalu mengajak teman-temannya seperti solat di rumah ini dan dia imamnya,” tuturnya.

Menurutnya kejadian itu pernah juga direkam abang Yogi. Kemudian ketika masih kelas satu SD Yogi juga selalu menghilang dari rumahnya, sore menjelang Magrib dan siang Jumat. “Pas Jumat tak sengaja melihat seperti Yogi pakai kopiah dan baju koko,” jelasnya.

“Ternyata benar dan ketika pulang saya tanya dari mana, katanya dari masjid. Rupanya dia minjam baju kawannya untuk Solat Jumat. Saya bilang benar-benar Yogi, nanti kamu masuk Islam, dijawabnya dia memang mau masuk Islam,” lanjutnya. “Rupanya tiap sore hilang dia melihat cara orang Solat di surau dekat sini. Kalau pukul 15.00 WIB dia selalu pergi ke tempat-tempat pendidikan agama Islam. Di sekolah pun tak mau belajar agama kami, dia hanya mau belajar pas pelajaran agama Islam,” tambahnya.


Kemudian pernah juga tetangganya mengatakan kalau Yogi menghilang sore maka degar saja di Surau. Jika ada suara orang ngaji dan salawat itu adalah Yogi. “Jadi ku intaikan ternyata memang benar dan anak-anak lain pun ramai mengikutinya,” tuturnya.

Ia menambahkan hingga belum lama ini Yogi memaksa minta disunat dan disahkan untuk memeluk agama Islam. “Jadi kita orangtua mengikhlaskannya. Hanya saya berharap setelah anak saya masuk Islam begini,” tegasnya.

“Maka ia harus dibimbing dengan sebenar-benarnya untuk memperlajari agama Islam. Jangan nanti malam dilepas dan dibiarkan begitu saja,” harapnya mendampingi Yogi. Sementara itu Yogi menegaskan masuk Islam karena memang keinginan sendiri. Bahkan sebelumnya ia sering belajar tentang Islam secara sendiri. Ia menegaskan masuk Islam karena ingin masuk surga nantinya.
Di hadapan awak media ketika ia diminta melantunkan ayat Alquran dan doa dalam Islam.

Ia pun langsung melakukannya tanpa teks. Ternyata ia sudah cukup banyak hafal ayat Alquran dan doa dalam Islam. Sebelumnya diberitakan Yogi Setiady (8) menjadi perbincangan masyarakat di Ketapang.

Lantaran ia dikabarkan pindah keyakinan dari non Muslim menjadi Muslim atau menjadi mualaf.
Ia resmi masuk Islam di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Delta Pawan, Kamis (5/10/2017).
Bahkan dikabarkan bocah Kelas II SDN 18 Sukabangun, Ketapang ini ketika ke KUA Delta Pawan tersebut diantar langsung ibunya Eriyanti (44) yang merupakan non Muslim.

Saat dikonfirmasi wartawan, sang ibu Eriyanti membenarkan kabar yang beredar tersebut.
“Iya saya memang mengantar dan menyaksikan langsung anak saya Yogi di KUA Delta Pawan itu untuk disahkan memeluk Agama Islam,” katanya kepada wartawan di rumahnya, Jumat (6/10/2017)

Sumber: tribunpontianakco.id/ Subandi

Kamis, 15 Juni 2017

Warga Muslim Jadi Pahlawan Penyelamat Kebakaran London

Tipsiana.com - Warga Muslim yang tinggal di apertemen Grenfall London dipuji sebagai pahlawan penyelamat pada peristiwa kebakaran gedung kemarin. Mereka membangunkan para tetangga yang masih tertidur lelap ketika kejadian terjadi.

Warga muslim yang sedang santap sahur mencium bau asap pada sabtu dinihari dan segera berlarian menggedor pintu para tetangga agar segera menyelamatkan diri. Mereka menjadi penyelamat setelah belakangan diketahui alarm dan penyemprot api tidak berfungsi.


Khalid Suleman, 20, yang tinggal di lantai delapan gedung Grenfell Tower mengatakan biasanya ia terjaga hingga larut malam untuk menunggu makan sahur. "Tak ada alarm tanda peringatan berbunyi, Aku sedang main Playstation sambil menunggu sahur hingga terciup bau asap" katanya.

"Aku langsung beranjak melihat keluar jendela dan terlihat lanta tujuh gedung berasap. Kubangunkan bibiku, berpakaian dan langsung menggedor pintu para tetangga."

Semua pintu terbuka kecuali dua pintu, tapi yg terakhir akhirnya ikut membuka pintunya. Jadi hanya satu keluarga yang tak bisa dibangunkan."


Menurut Lembaga Masjid London, sahur di kota London pada sabtu keamrin selesai saat fajar pada pukul 2.40 dinihari. Rashida, berkata,"Kebanyakan umat muslim baisanya belum tidur hinggga pukul 02.00 atau 02.30 dinihari untuk shalat malam dan sahur. Jadi seluruh keluarga masih bangun sehingga bila ada sesuatu yang tak beres di lingkungan sekitar pada jam tersebut, mereka pasti mengetahuinya."

Seorang warga yang diwawancarai reporter mengatakan, "Andai saja tak ada para remaja Muslim yang berdatangan dari masjid untuk menolong kami, bakal banyak orang yang akan mati."

"Mereka lah orang pertama yang membagikan air, berlarian dan berteriak membangunkan warga."

Relawan Muslim membantu para korban kebakaran

Andre Barroso, 33 tahun, bercerita pada The Independent, "Warga Muslim berperan besar menyelamatkan orang-orang keluar dari sini . Kulihat orang-orang yang menolong kebanyakan adalah Muslim. Mereka juga menyediakan makanan dan pakaian."

200 petugas pemadam kebakaran dikerahkan beserta 40 mobil damkar. Sejauh ini ditemukan 6 orang tewas akibat kebakaran gedung 27 lantai tersebut.

Sumber : dailymail.co.uk

Rabu, 14 Juni 2017

Benarkah Gajah Mada Seorang Muslim?

Tipsiana.com - Siapa yang tidak kenal Gaj Ahmada (Gajahmada). Agama apa sebenarnya yang dianut Gaj Ahmada?

Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta sengaja melakukan penelitian untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis .

Maka tim ini kemudian menerbitkan hasil penelitiannya dalam sebuah buku awal berjudul "KESULTANAN MAJAPAHIT Fakta Sejarah Yang Tersembunyi".


Berikut diantara hasil penelitian tersebut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Sebagaimana kita ketahui, koin merupakan sebuah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Maka sungguhlah mustahil jika dikatakan bahwa sebuah kerajaan Hindu memiliki koin yang bertuliskan kalimat tauhid seperti ini.


2. Pada batu nisan Syaikh Maulana Malik Ibrabim (Sunan Gresik) terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Qadhi (hakim agama Islam) kerajaan Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa Agama Islam merupakan agama resmi kerajaan tersebut.

3. Lambang kerajaan Majapahit berupa delapan sinar matahari dengan beberapa tulisan arab yakni sifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan Dzat. Mungkinkah sebuah kerajaan Hindu memiliki logo/lambang resmi bertuliskan kata-kata arab seperti in?

4. Pendiri kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya ternyata seorang muslim. Beliau adalah cucu dari Prabu Guru Dharmasiksa, seorang Raja Sunda sekaligus ulama Islam Pasundan yang hidup selayaknya seorang sufi. Sedangkan neneknya merupakan seorang muslimah keturunan penguasa Kerajaan Sriwijaya. Meskipun Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (menggunakan bahasa sansekerta yang lazim digunakan saat itu), tidak lantas menjadikan beliau seorang pemeluk Hindu. Gelar seperti ini (menggunakan bahasa sansekerta) ternyata masih juga digunakan oleh raja-raja muslim jawa zaman sekarang seperti Hamengkubuwono dan Paku Alam di Yogyakarta serta Pakubuwono di Surakarta/Solo.


4. Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut. Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia). Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.

5. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Timur tengah pun berada dalam situasi konflik yang tidak menentu. Terjadilah eksodus besar-besaran (pengungsian) kaum muslim dari Timur Tengah (tetutama keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan sebutan alawiyah). Mereka menuju kawasan Nuswantara (atau Nusantara) yang kaya akan sumber daya alamnya. Mereka pun menetap dan melanjutkan keturunan yang sebagian besar menjadi penguasa kerajaan-kerajaan di nusantara, termasuk kerajaan Majapahit.

Itulah beberapa fakta mengejutkan yang tersembunyi dari kerajaan Majapahit. Anda terkejut? Saya pun demikian. Mengapa bisa terjadi kesalahan seperti ini? Kita tahu, kawasan nusantara saat itu dikuasai penjajah Belanda yang kafir. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Ttd

(ARIF BARATA)

*Sumber: Facebook Arif Barata
---------
Tentunya klaim ini butuh pembuktian lebih lanjut, namun tak salah jika ini menjadi tesis baru untuk mengungkap kebenaran sejarah.

Namun teori bahwa Gajah Mada adalah muslim dan kerajaan Majapahit sebenarnya adalah Kesultanan Majapahit yang menganut agama Islam ternyata dikritisi juga oleh pihak lain. Anda bisa membandingkan argumen kontra-nya pada artikel ini : http://wongcilikbicara.blogspot.co.id/2010/11/majapahit-bukan-kesultanan-islam.html
(redaksi tipsiana)

Sabtu, 10 Juni 2017

Hutang Puasa Ramadhan Tahun Lalu Belum Diqadha. Bagaimana Hukumnya?

Tipsiana.com - Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)


Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyahradhiyallahu ‘anha,


كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,

الشُّغْلُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‘Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
A’isyah, istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu siap sedia untuk melayani suaminya, kapanpun suami datang. Sehingga A’isyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadhanya, sampai bulan sya’ban, dan itu kesempatan terakhir untuk qadha.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وَيؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذلك في شَعْبَان: أَنَّهُ لا يجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يدْخُلَ رَمَضَان آخر

Disimpulkan dari semangatnya A’isyah untuk mengqadha puasa di bulan sya’ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. (Fathul Bari, 4/191).



Bagaimana jika belum diqadha hingga datang ramadhan berikutnya?

Sebagian ulama memberikan rincian berikut,

Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.

Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga utang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk ramadhan berikutnya.
Jawaban yang beliau sampaikan,

ليس عليها إطعام إذا كان تأخيرها للقضاء بسبب المرض حتى جاء رمضان آخر ، أما إن كانت أخرت ذلك عن تساهل ، فعليها مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم

Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnyam hingga datang ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari utang puasanya.

Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan.

Ada 3 hukum untuk kasus ini:
Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?
Bagian ini yang diperselisihkan ulama.

Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.
As-Syaukani menjelaskan,

وقوله صلى الله عليه وسلم: “ويطعم كل يوم مسكينًا”: استدل به وبما ورد في معناه مَن قال: بأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهم: ابن عمر، وابن عباس، وأبو
هريرة. وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadis ini dan hadis semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.

At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,
وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا
Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)

Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-aqarah: 184)

Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.
Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,

هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع

Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).

Sumber :
Binbaz.org.sa
Akhwat Indonesia

Kamis, 08 Juni 2017

Saat Imsak Ternyata Masih Bisa Makan Minum, Ini Alasannya

Tipsiana.com - Pernahkah Anda merasa sangat terintimidasi ketika dibangunkan oleh sirine tanda masuk imsak yang diputar di radio atau masjid terdekat? Bunyi sirine yang sejatinya adalah sirene tanda bahaya serangan udara yang digunakan saat perang atau sebagai penanda jam malam ini benar-benar membuat Anda panik.

Bagaimana tidak, dalam pemahaman banyak orang, bila imsak telah tiba berarti waktu makan sahur telah habis. Jadi, selama sisa sirene meraung, kita yang telat bangun akan pontang-panting mencari makanan sekenanya atau minum sebisanya. Setelah bunyi sirene habis, kebanyakan orang menganggap tak boleh lagi makan atau minum.


Tapi benarkah demikian? salah kaprah waktu imsak mungkin hanya terjadi di Indonesia, dimana waktu menjalankan ibadah puasa dianggap dimulai saat imsak. Padahal tidak demikian, berikut penjelasannya.

Dilihat dari pengertian, imsak adalah menahan diri dari yang membatalkan puasa, hal ini berbeda dengan shaum atau puasa yang berarti menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenam matahari (waktu maghrib).

Walau dikatakan imsak merupakan waktu menahan diri, namun jika waktu imsak sudah masuk kita masih bisa makan dan minum.

Allah SWT berfirman :
فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam …” (Q.s Al-Baqarah: 187)

Jadi, waktu dimulainya puasa Ramadan adalah saat fajar telah terbit, bukan imsak. Istilah imsak sendiri tidak ada pada masa Rasulullah. Ketentuan waktu imsak dilakukan sebagai ihtiyath (kehati-hatian) untuk menjaga agar seseorang tidak melampui waktu yang telah ditentukan untuk berpuasa.


Dan seperti yang diriwayatkan Al-Bukhari (hadits no. 1919) dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Bilal mengumandangkan adzan pada suatu malam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
“Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. Sesungguhnya dia tidaklah mengumandangkan adzan hingga fajar terbit.”

Dengan begitu jelaslah bahwa waktu imsak bukanlah penanda awal waktu puasa. Bukankah Rasulullah bersabda “Senantiasalah umatku berada dalam kebaikan (Puasa) selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Zarr ra).

Waktu 10 menit tersebut masih cukup untuk makan dan minum terlebih bagi orang yang terlambat bangun untuk makan sahur. Ketika adzan berkumandang namun kita tengah minum, maka kewajiban kita menghabiskan minum tersebut. Sebagaimana yang pernah dilakukan Umar bin Khattab, ketika beliau sedang minum lalu adzan berkumandang, kemudian Umar bertanya kepada Nabi apakah boleh untuk menghabiskannya dan Nabipun mengizinkannya.

Dari berbagai sumber

Minggu, 28 Mei 2017

Puasa Anda Akan Sia-sia Jika Lakukan Lima Hal Ini

Tipsiana.com - Ketika perang Badar usai dan kaum muslimin menang telak dari musuhnya, para sahabat bergembira. Mereka telah memenangkan perang besar pertama dengan jumlah pasukan yang sebenarnya tak berimbang. Hanya berjumlah 313 orang, pasukan muslimin mampu mengalahkan pasukan Quraisy Mekah yang berjumlah 1.000 orang.

Ditengah sukacita kemenangan itu, Nabi Muhammad SAW mengingatkan para sahabat; "Kita telah kembali dari jihad (perang) kecil dan akan menghadapi peperangan besar (Jihad Akbar)". Dalam keheranan mereka, sahabat lalu bertanya, "Apakah ada lagi perang yang lebih besar dan dahsyat dari perang Badar?" Rasul menjawab, "Perang melawan hawa nafsu di dalam diri masing-masing". (HR Baihaqi dari Jabir).


Banyak yang mengatakan bulan puasa adalah ajang untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Tapi sejatinya, ia bukanlah lagi latihan, tapi sesungguhnya adalah sebuah perang besar melawan hawa nafsunya sendiri.

Puasa tak sebatas menahan lapar dan haus, kita tahu itu. Yang sering kita tak sadari adalah ternyata banyak hal sepele dalam keseharian kita yang ternyata bisa menghapus pahala puasa. Dan ketika kita beribadah tanpa pahala, maka sia-sialah ibadah kita. Nabi SAW memberi peringatan untuk tidak melakukan lima hal ini agar puasa kita tak sia-sia.

1. Berbohong

Sebuah survey yang pernah dilakukan di Amerika menyatakan, 91% warga Amerika biasa berbohong. Ini bisa jadi gambaran betapa berbohong telah menjadi penyakit masyarakat. Sebagian umat muslim pun tak lepas dari kecanduan sifat ini. Bahkan, berbohong telah menjadi keseharian.

Orang yang puasa tak boleh berbohong. Begitu kita melakukan kebohongan, sekecil apapun kebohongan itu, maka pahala puasa kita akan menguap. Karena telah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang, maka berusaha untuk tidak berbohong selama menjalani ibadah puasa adalah sebuah perang besar yang harus terus diperjuangkan. Pada akhirnya, bila kita telah terbiasa berbicara jujur selama Ramadan, Insya Allah kita akan menjadi orang jujur, dan kejujuran adalah nikmat Allah yang teragung setelah nikmat memeluk Islam.

2. Bergosip (Ghibah)

Di era teknologi informasi yang maju pesat, informasi sangat mudah diterima dari banyak sumber. Televisi, radio, dan yang paling masif, internet, menyuguhkan berbagai info. Banyak yang berguna namun tak sedikit yang bermuatan ghibah.

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Ingat, hilangnya pahala puasa tak hanya berlaku pada yang menyampaikan gosip, tapi juga bagi yang mendengarkan atau yang asyik membacanya.


3. Menghasut/ Mengadu-domba

Menghasut adalah salah satu perbuatan yang dibenci Allah karena ia akan menyebakan ikatan ukhuwah Islamiyah tercerai berai. Tak sedikit konflik yang terjadi bermula dari hasutan. Nabi SAW berwasiat kepada Ali bin Abu Thalib, yang artinya: "Wahai Ali! Saya melihat tulisan pada pintu surga yang berbunyi,"Surga itu diharamkan bagi setiap orang yang bakhil, orang durhaka kepada kedua orangtuanya, dan bagi orang yang suka mengadu-domba (menghasut)."

4. Bersumpah Palsu

Bersumpah untuk meyakinkan orang terhadap suatu kebenaran memang dibolehkan bila benar-benar diperlukan. Tapi sumpah palsu dengan menggunakan nama Allah sangat dilarang.

Jangankan bersumpah palsu, bersumpah atas nama Allah terhadap sesuatu yang benar pun tidak boleh sembarangan diucapkan. Ini untuk menghindari kita terbiasa mengucapkan sumpah pada sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Karenanya, jagalah puasa kita dari mengucap sumpah palsu agar pahala puasa tak terhapus.

5. Melihat wanita dengan nafsu

Hidup di era modern memang gampang-gampang susah. Apalagi hidup di lingkungan yang nilai moral dan etika diukur pada pemahaman masing-masing. Cara berpakaian wanita tidaklah sama, ada yang mengikuti syariat Islam, tapi banyak juga yang masih belum mendapat hidayah. Nah, disinilah tantangan berat bagi kaum lelaki.

Media juga sangat menguji iman lelaki. Setiap halaman situs yang kita buka hampir selalu diisi oleh foto wanita cantik yang berpakaian 'menantang'. Jangan sampai karena sifat 'kelelakian' kita mengalahkan godaan yang berseliweran.

خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

“ Lima perkara yang membatalkan orang yang berpuasa ; dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “.

Akhirnya, hadist Nabi SAW ini harus kita ingat dan amalkan baik-baik. Sangat sayang rasanya bila bulan Ramadhan kita tak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus saja. Semoga derajat kita naik dari derajat puasa orang -orang awam menjadi puasa orang-orang bertaqwa. Insya Allah.

Sabtu, 27 Mei 2017

Legenda Kapten Jack Sparrow, Sang Bajak Laut Muslim

Tipsiana.com - Diakhir abad ke-16, seorang anak kecil mengumpulkan potongan kayu dari dermaga sambil bertanya-tanya, apakah ia bisa meninggalkan Faversham di wilayah Kent, tempat terpanas di seluruh Inggris. Faversham adalah tempat tak penting bagi siapapun, kecuali perompak. Dermaga tersebut adalah surga penyelundup dan bajak laut.

Anak kecil itu adalah Jack (John) Ward, bocah yang mimpinya menjadi nyata saat ia dewasa, meski mungkin tak terlalu sesuai dengan harapannya. Ia akan menjadi Jack Birdy, bajak laut paling ditakuti di dunia. Dan pada akhir hidupnya, namanya berubah menjadi Yusuf Reis, seorang mualaf kaya raya yang menghabiskan sisa hidupnya di istana Tunisia.


Legenda Kapten Jack Birdy dulunya selalu dilantunkan oleh para penyanyi balada di Inggris. Namun seiiring waktu, ia hampir terlupakan. Sampai sejarahnya kembali hidup dalam semangat seorang karakter Kapten Jack Sparrow yang dimainkan Johnny Deep dalam film franchise laris "Pirates of The Caribbean".

Kisah melegendanya dimulai ketika ia beranjak dewasa. Jack bergabung menjadi perwira di angkatan laut Inggris dan pada tahun 1588 mendapat tugas menjadi penjarah kapal-kapal Spanyol dengan izin dari Ratu Elizabeth I. Pekerjaannya dihapus oleh kerjaan Inggris setelah James I menjadi raja di tahun 1603 dan mengakhiri perang dengan Spanyol.

Merasa dikhianati oleh kerajaannya sendiri, banyak penjarah yang kehilangan lisensi marque dan menolak meninggalkan pekerjaanya. Sementara John Ward awalnya menerima dan kembali menjadi nelayan yang bekerja di daerah Plymounth.


Di tahun yang sama, Ward berubah pikiran dan menjadi bajak laut bersama 30 orang temannya dengan merampas kapal di dermaga Portsmouth. Oleh rekan-rekannya, ia didapuk menjadi pemimpin mereka, sekaligus pimpinan bajak laut pertama dalam sejarah.

Sepak terjang gerombolan bajak laut ini semakin mendunia setelah mereka terus berhasil merampas kapal-kapal pedagang mulai ukuran kecil hingga besar. Akibat kegiatan kriminal tersebut, mereka menjadi buronan dan ,melarikan diri ke Tunisia. Ditengah pelariannya, ia mengagumi burung-burung kecil yang hidup di Tunisia hingga ia oleh warga di juluki Jack Asfour. Dalam bahasa arab asfour artinya burung gereja, yang dalam bahasa Inggris disebut 'Sparrow'. Inilah asal muasal nama "Jack Sparrow".

Pada tahun 1605, kapten Ward melakukan perjanjian kerjasama dengan Sultan Tunisia, Usman Dei yang menjadikan kota Tunis sebagai markasnya. Reputasi mereka sebagai bajak laut makin terkenal setelah memiliki markas sendiri.

Meski ia aman tinggal di Tunisia, Jack Sparrow ternyata pernah mencoba meminta pengampunan dari Raja James I, namun ditolak. Ia beruntung Sultan Tunisia ternyata menepati janjinya dan terus memberikan perlindungan buat Jack.


Terkesan dengan kebaikan Sultan, Kapten Jack Sparrow akhirnya memutuskan menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Yusuf Reis. Tak lama setelah masuk Islam, ia menikahi Jessimina, seorang wanita Sisilia yang juga mualaf.

Jack Sprarrow dikenal sebagai seorang yang kasar, pendiam, suka mengumpat dan pemabuk berat. Namun sikapnya berubah dan berhenti minum alkohol setelah menjadi seorang muslim. Ia bahkan menjadi pahlawan setelah berhasil menyelamatkan ribuan orang Muslim dan Yahudi yang berlayar setelah mengungsi dari Spanyol karena dipaksa untuk pindah agama.

Dari seorang yang hidup penuh dengan kekerasan, akhirnya masa tuanya dihabiskan dengan bahagia di Istana Tunisia. Ia meninggal pada tahun 1622 di usia 70 tahun akibat wabah.

Pada tahun 1622, seorang penulis bernama Robert Daborne terinspirasi kisah hidup Jack Ward dan menulis sebuah novel berjudul "A Christian Turned Turk".  400 tahun kemudian, pada 2006 kisah kolosal bajak laut ini kembali fenomenal setelah karakternya diadaptasi dalam film laris "Pirates of  the Carribbean". Hingga 2017, film ini telah mencapai episode ke-6 berjudul "Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales".

Sumber :
http://www.virtualmosque.com/society/entertainment/the-legend-of-captain-jack-from-birdy-to-sparrow/
http://dispatch.com.pk/jack-or-yusuf-pirates-of-the-caribbean-is-based-on-a-real-muslim-pirate-1676
https://en.wikipedia.org/wiki/Jack_Ward
http://www.fimadani.com/captain-jack-ward-sparrow-bajak-laut-yang-menjadi-muslim/

Kamis, 25 Mei 2017

Makna Utama Ziarah Kubur yang Sering Terlupakan

Tipsiana.com - Suatu ketika Rasullah SAW berziarah ke makam ibundanya. Saat berziarah tersebut Rasullah menangis, kemudian orang-orang yang ikut serta dengan beliau ikut menangis. Beliau lalu bersabda: "Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, akupun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian". (HR. Muslim no.108,2/671)


Momen menjelang Ramadan di Indonesia disambut oleh umat muslim dengan berduyun-duyun menziarahi makam kerabatnya. Kebiasaan ini sangatlah positif jika dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan memahami maknanya. Sayangnya, banyak yang melakukan ziarah kubur hanya sebatas kebiasaan menjelang puasa tanpa memaknai tujuan sebenarnya dari ziarah kubur.

Sejatinya, ziarah kubur boleh dilakukan kapanpun, tidak terikat oleh waktu tertentu, apalagi mengkhususkannya. Kebiasaan berziarah hanya pada saat menyambut Ramadhan dikhawatirkan akan mengubah keyakinan menjadikan ziarah kubur saat menjelang puasa adalah amalan yang lebih utama dibanding hari lainnya. Padahal ziarah kubur boleh dilakukan di waktu lainnya tanpa ada hari yang lebih utama.


Tujuan utama dari ziarah kubur disampaikan Nabi SAW dalam sebuah hadis, beliau bersabda : “Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Hakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584).

Ziarah kubur akan mengingatkan kita pada kefanaan, kematian dan akhirat, sehingga kita tidak akan terlena dengan gemerlap dunia dan tetap ingat pada Allah SWT. Dengan ziarah kubur hati kita akan menjadi lembut dan mendoakan orang-orang tercinta yang telah mendahului kita.

Selasa, 25 April 2017

Innalillah... Ustadz ini Meninggal saat Lantunkan Ayat Al-Qur'an tentang Kematian

Tipsiana.com - Suasana duka menyelimuti acara haul keluarga Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa. Seorang ustadz yang sedang membaca ayat suci Al-Qur'an saat sesi doa, meninggal.

Ustadz Ja'far Abdul Rahman, yang dipercaya membawakan doa, menghembuskan nafas terakhirnya ketika membacakan Surat Al-Mulk. Beliau adalah tetangga Khofifah yang selalu dipercaya mengisi acara keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Jemursari, Surabaya.


"Jadi, kita tadi kaget, terkejut luar biasa. Waktu sampai di ayat kedua, beliau kemudian terdiam. Kita semua tolah-toleh (bingung). Ternyata, ustaz Ja'far berpulang," Khofifah bercerita.


Meninggal saat membaca Al-Qur'an masuk dalam golongan orang yang meninggal Khusnul Khotimah, meninggal dalam keadaan baik. Apalagi, ayat ke-2 Surat Al-mulk yang dibaca beliau sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir artinya berkaitan tentang kematian.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." Q.S. Al-Mulk Ayat 2.



Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah. Kematian memang benar-benar Rahasia Allah SWT, tak satupun manusia yg tahu kapan ajal menjemput. Maka kumpulkan bekal akhirat sebanyak-banyaknya dan bersiaplah.

Berikut detik-detik terakhir menjelang Ustadz Ja'far dipanggil sang Khalik.

Rabu, 12 April 2017

Fenomena Londonistan, Ketika Gereja Berubah Menjadi Masjid di Kota London

Tipsiana.com - Saya memang tahu ada nama Pakistan, Afghanistan, Turkistan, Kazhakstan, Kirgistan, Uzbekistan dan lain-lain nama berakhiran “stan”. Namun saya tidak tahu bahwa ternyata ada pula nama Londonistan.

Ternyata Londonistan adalah julukan terbaru bagi sebuah kota yang bernama London . Yang menciptakan julukan Londonistan adalah jurnalis terkemuka, Melanie Phillips, demi melukiskan betapa besar pengaruh Islam terhadap ibukota Inggris di masa kini.


Sejak 2001 sampai dengan 2016, di London telah didirikan 423 mesjid baru sementara sekitar 500 gereja telah ditutup. The Hyatt United Chuch dibeli oleh umat Islam dari Mesir dan diubah menjadi masjid.  Sama halnya dengan gereja Santo Peter dirubah menjadi masjid Madina. Masjid Brick Lane semula adalah sebuah gereja Methodist. Bukan hanya bangunan yang berubah sebab pada tahun 2016 jumlah kaum Mualaf di kota Londonistan meningkat dua kali lipat.

The Daily Mail sengaja secara khusus mempublikasikan serial foto fakta Londonistan antara lain dengan foto sebuah masjid dan sebuah gereja bertetangga di pusat kota Londonistan. Atau adegan di dalam gereja San Giorgio yang berkapasitas tampung 1.230 jemaat namun hanya hadir 12 orang pada upacara misa. Hanya 20 orang tampak hadir di dalam katedral Santa Maria.

Masjid di kawasan Brune Street Etatate punya masalah beda akibat daya tampung hanya maksimal 100 orang maka setiap Jumat, umat terpaksa meluber ke jalanan. Walikota London masa kini adalah Muslim.


Ceri Peach dari Universitas Oxford menyatakan homogenitas umat beragama di Inggris masa kini memudar akibat dominasi Kristen memang melenyap. Direktur The National Secular Society, Keith Porteus Wood yakin bahwa di Inggris dalam 20 tahun mendatang jumlah Muslim akan lebih besar ketimbang jumlah Nasrani.

Menurut riset NatCen Social Research Institute jumlah umat Anglican pada lingkup waktu 2012 sampai dengan 2014 mengalami kemerosotan menjadi sekitar 1,7 juta , sementara jumlah umat Islam di Inggris meningkat menjadi satu juta insan. Demografikal, umat beragama di Manchester 15,8 persen Muslim, Birmingham 15,8 persen bahkan Bradford 24,7 persen.


Wajar apabila para penderita Islamophobia makin dilanda gelisah paranoid bahwa gelombang bencana Islamisasi sedang melanda Inggris. Namun bagi mereka yang mengerti kodrat proses peradaban, sama sekali tidak merasakan apalagi menganggap fenomena Londonistan sebagai suatu mimpi buruk di malam hari.


Gejala Londonistan sekadar ekspresi perubahan peta demografik keagamaan di Inggris di mana kebetulan agama Nasrani sedang mengalami masa pasca kematangan sementara Islam sedang mengalami masa pertumbuhan.


Kemerosotan jumlah umat Kristen bukan akibat pertumbuhan  Islam. Ketika masih belajar kemudian mengajar di Jerman pada tahun 70an abad XX di mana umat Islam setempat masih dalam jumlah sangat terbatas, saya pribadi sudah menyaksikan bagaimana jumlah umat Kristen yang rajin ke gereja terus menerus merosot.


Jumlah warga yang secara adminisratif ke luar dari agama Kristen makin banyak akibat keberatan membayar pajak gereja yang secara legal wajib dipotongkan langsung dari salaris bulanan. Terutama generasi muda Jerman pada masa itu sudah mulai menganggap  agama Kristen sudah tidak relevan akibat tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Maka dapat disimpulkan bahwa apa yang disebut sebagai Islamophobia sebenarnya hanya suatu penyakit jenis khayal yang sengaja direkayasa oleh mereka yang merasa kepentingannya terancam akibat tumbuhnya jumlah umat Islam.

Sehingga meski pun pada kenyataan mayoritas pelaku kekerasan terorisme di bumi Amerika Serikat sebenarnya bukan Muslim, namun Donald Trump dan para pendukungnya sengaja membiasakan diri untuk menggunakan istilah teroris Islam radikal.


Oleh : Jaya Suprana, Penulis adalah pembelajar peradaban

Sumber: RMOL via portal-islam.id

Rabu, 05 April 2017

Pertemuan Istimewa DR Zakir Naik dengan Fajar, Sang Anak Lumpuh Otak Yang Hafal Quran

Tipsiana.com - Alhamdulillah tadi sore (Senin, 3 April 2017), saya dan Ust. Darus Mahfuzi bisa mendampingi Fajar dan mamanya, dalam acara privat meeting bersama Dr. Zakir Naik, di Sumberwatu Haritage Resort, Prambanan.

Awalnya, Fajar rencana tampil bersama Dr. Zakir Naik di Sportorium UMY (3/4/2017). Tapi akhirnya tidak jadi.

Sejak lama, Fajar ingin sekali ketemu dengan Dr. Zakir Naik. Mamanya hanya bisa berkata, "Sabar ya Fajar, insya Allah nanti juga ketemu. Tapi kan Dokter Zakir naik ngomongnya pake bahasa Inggris. Emang Fajar bisa ngomong Inggris?"


"Nanti Fajar jawabnya pakai bahasa Arab" jawab Fajar dengan spontan. Kami yang mendengarnya tersenyum dengan jawaban ini.

:) :) :)

Tiba di Sumberwatu sebelum jam 16.00 ketika para tamu masih sedang menyantap makanan, termasuk Dr. Zakir Naik yang duduk di meja samping Fajar.

Fajar berbincang-bincang dengan tamu tamu yang lainnya yang kebanyakan sudah mengenal Fajar. Salah satunya dengan Fariq Naik (putra Dr Zakir Naik) yang sudah hafiz Al Quran dan dapat berbicara bahasa Arab dan Inggris. Dia mengetes hafalan Fajar dengan menanyakan beberapa ayat.

Hingga akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Dr Zakir Naik sendiri langsung menyapa dan mendatangi Fajar.

Ketika Dr Zakir Naik datang, Bapak Hanny Kristianto, wakil direktur Mualaf Center Indonesia, yang pernah haji bersama Fajar tahun 2015, mengenalkan Fajar kepada Dr Zakir Naik bahwa inilah anak yang terlahir cacat dan lumpuh otak tetapi mampu menghafal Alquran 30 juz dengan lancar. Silakan Dr Zakir naik bertanya ke nanti akan dijawab oleh Fajar.

Ayat yang pertama ditanyakan oleh Dr Zakir Naik adalah Firman Allah "Huwalladzi Arsala Rasulahu Bil Huda wa Dinil Haq" langsung dijawab Fajar "Wa kafa Billahi Syahida" seperti dalam surah Al Fath.

"Saya mau yang ada di surat As Shaf," kata Dr Zakir Naik. Dijawab oleh Fajar dengan baik. (Ayat "Huwalladzi Arsala Rasulahu Bil Huda wa Dinil Haq" terdapat di beberapa Surat Al-Quran)

"Saya mau yang di Surat At Taubah," kata Dr Zakir naik lagi dan Fajar menjawab dengan baik lagi.

"Masya Allah.. Masya Allah" kata para tamu yang saat itu mengerumuni Fajar.

Lanjut, "berapa kali laqad kafaralladzina dalam Al Quran?" tanya Dr. Zakir Naik. Langsung dijawab oleh Fajar seperti apa yang ada dalam Surah Al Maidah.

"Qul ya ahlal kitab" tanya Dr. Zakir Naik.
"La taghluu fii diinikum" jawab Fajar dengan cepat.

"Ya Ayyuhalladzinaa aamanuu..." Dr. Zakir Naik kembali membaca ayat.

Kalimat "Ya Ayyuhalladzinaa Amanuu" ini dalam Al Quran diulang lebih dari 80 kali. Ayat manakah yang akan dibaca Fajar?

"Laa tattakhidzul yahuuda wannashaaraa auliyaa" lanjut Fajar dengan spontan membaca Al Maidah 51.

Dr. Zakir Naik dan para hadirin lainnya tersenyum lebar (seperti yang ada dalam video). Saya pun takjub dengan jawaban Fajar ini, karena dua hal: pertama, dari 80 ayat tersebut Fajar mampu memilihyang sesuai dengan tema ayat yang diujikan oleh Dr. Zakir Naik dari awal, kedua ayat ini yang paling populer di Indonesia saat ini.


Dr. Zakir Naik sempat berpesan kepada Fajar untuk berlatih menghafal surat dan nomor ayat.

Lalu para tamu undangan lainnya bergantian memberi pertanyaan sambung ayat kepada Fajar, dengan sekali kali diiringi oleh penjelasan dari Ko Hanny Kristianto. Termasuk mengenalkan kedua orang tua Fajar; Bapak Joko Wahyudiono dan Ibu Heny Sulistiowati.

Di saat asyik asyik bertanya jawab, tiba-tiba Fajar menyeletuk, "Uriidu An Arji'a ilaa Klaten qablal maghrib".

Semua terdiam.

Saya langsung menerjemahkan, "Fajar mau kembali ke Klaten sebelum Maghrib".

Saat itu saya lirik jam sekitar pkl. 16.30.

Kenapa Fajar ingin cepat pulang?

"Iya Ust. Daritadi sebelum berangkat Fajar sudah nanya, mau shalat maghrib dimana? Fajar maunya Shalat Maghrib di Pondok Pesantren Tahfizul Quran Ibnu Abbas Klaten, supaya tidak ketinggalan pelajaran Sirah Nabawiyah bersama Ust. Rahmat Zubair bakda Maghrib," kata mamanya Fajar saat di mobil. Semangat Fajar untuk belajar memang luar biasa.

Tidak lama setelah itu, Fajar diminta membaca doa oleh Dr. Zakir Naik, sementara para tamu ikut mengaminkan.

Kemudian masuk sesi foto bersama. Semua yang hadir mengambil posisi di sisi kiri dan kanan Fajar dan Dr. Zakir Naik. Tapi Dr. Zakir Naik memberi isyarat bahwa beliau ingin foto berdua dulu sama Fajar. Para tamu undangan lainnya minggir dulu.

Setelah itu, foto bertiga: Fajar, Dr. Zakir Naik, dan Fariq, anak Dr. Zakir Naik

Tiba-tiba dari kerumunan tukang foto, Ko Hanny berseru (dengan bahasa Inggris), "Sekarang foto sesama hafizh dulu"

Dr. Zakir Naik langsung turun sambil tersenyum. Artinya yang difoto hanya Fajar dan Fariq. Para hadirin lainnya tertawa.

Setelah itu baru foto bersama semuanya.


Pihak manajemen restoran dan banyak tamu undangan yang secara bergantian meminta foto bersama Fajar.

Tidak berapa lama rombongan Dr. Zakir Naik beranjak pulang dengan diiringi patroli dan pengawalan polisi.

Kami pun segera beranjak kembali ke Klaten, diiringi oleh hujan deras dan angin yang bertiup kencang.

Ketika di mobil, Fajar sempat berkata, "Mama, Fajar ingin jadi juri acara Hafizh Indonesia tahun depan".

Sampai jumpa dengan Fajar pada kesempatan yang lain.


Rabu, 22 Maret 2017

Fakta: Barat Lebih Brutal dari Dunia Islam

Tipsiana.com - Seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, telah membaca Al-Qur'an.

Setelah membaca, mengamati dan berpikir, Todenhöfer menulis. Hasilnya: sebuah buku “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian), yang terbit di akhir tahun 2011. Berikut ringkasannya:


1. Barat Lebih Brutal dari Dunia Islam

Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Barat jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senjata kimia di Marokko.

Tidak berbeda di era setelah perang dunia kedua. Dalam invansi perang Teluk kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Irak terbunuh. Sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota keluarganya.

Sebaliknya, di dua abad terakhir, tidak satu pun negara Islam menyerang, mengintervensi, mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia, di dua abad belakangan ini, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara Barat.


2. Mempromosikan Anti-Terorisme, Melahirkan Terorisme

Terorisme jelas tidak dibenarkan. Menilik secara objektiv, terorisme justru lahir dari politik anti-terorisme Barat yang keliru. "Seorang pemuda muslim," tulis Todenhöfer, "yang secara rutin memantau berita di televisi, hari demi hari, tahun demi tahun, akan situasi di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina dan di tempat lain, di mana perempuan, anak-anak dan penduduk sipil, dihabisi oleh Barat dengan brutal, justru diprovokasi untuk menjadi seorang teroris."

Beruntung saja, sebagian besar pemuda Islam tidak terpancing. Mereka memilih jalan yang berbeda. Di Tunisia, Mesir, Libya, Marokko, dan negara-negara muslim lainnya, mereka menjawab ketidak-adilan yang menimpa mereka melalui jalan demokrasi dan teriakan kebebasan, bukan teror dan kekerasan.

3. Terorisme: Fenomena Dunia, Bukan Fenomena Islam

Pemeo favorit di setiap diskursi bertemakan terorisme: “Tidak setiap muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah muslim.” Selain jauh dari benar, dengan data dan fakta, propaganda ini mudah dipatahkan.

Data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, menyebutkan: Dari 249 aksi teror di tahun 2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 – tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak kalah mengejutkan: Dari 294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007.

4. Hukum Internasional untuk Semua

Dihadapan hukum internasional, dunia Barat selalu mentematisir, dan merekam dengan baik, 3500 korban terorisme yang jatuh atas nama "Teror-Islam" semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC, pada 11/9). Tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Irak tidak pernah ditematisir?

Lebih jauh, Todenhöfer bertanya kritis: “Mengapa elite Barat, tidak pernah sekalipun menimbang; membawa George W. Bush dan Tony Blair ke hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Irak? Apakah hukum internasional hanya berlaku untuk orang-orang non-Barat?“

Perang, bukan jawaban untuk aksi-aksi terorisme. Perang, hanya manis untuk mereka yang tidak mengenalnya. Teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa, bukanlah pejuang kebebasan, bukan pahlawan, bukan pula syuhada. Mereka mengkhianati agama mereka. Mereka adalah pembunuh.

5. Muslim, Toleransi dan "Perang Suci"

Bukan Muslim, yang atas nama kolonialisasi membunuh 50 juta nyawa di seantero Afrika dan Asia. Bukan Muslim, yang atas nama perang dunia pertama dan kedua menghabiskan 70 juta nyawa. Bukan pula Muslim, yang menggencarkan genosida terhadap 6 juta orang-orang Yahudi.

Islam tidak mengenal kata suci dalam kaitannya dengan perang. Jihad bermakna sungguh-sungguh di jalan Tuhan. Tidak ada satu tempat pun di Quran yang memaknakan jihad dengan perang suci. Karena perang tidak pernah suci, dan kesucian hanya ada di jalan perdamaian.


6. Kontekstual Quran dan Islam-Teroris

Permasalahan besar dalam perdebatan Quran di dunia Barat, adalah setiap orang bernafsu membicarakannya, sangat-sangat sedikit yang pernah membacanya.

Sebagian besar mereka tidak lagi rasional dan ilmiah. Hanya mengutip beberapa tekstual yang mengesankan Islam pro “perang” tanpa pernah mau tahu konteksnya. Padahal pesan-pesan Quran yang dikesankan seperti itu, spesifik diterima Muhammad, dalam konteks perlawanan antara penduduk Mekkah dan Madinah, waktu itu.

Seperti Musa dan Isa, Muhammad tidak dilahirkan pada situasi dunia yang sedang vakum, apalagi damai. Mereka hadir pada saat moralitas dunia bobrok, penuh perang, perjuangan dan perlawanan. Adalah sangat lumrah beberapa tekstual yang terkesan pro “perang” itu bisa ditemukan di Quran, semudah bisa ditemukan di kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru.

Secara semantis, diksi “islam-teroris”, “kristen-teroris” atau “yahudi-teroris” adalah sebuah penyesatan bahasa. Terorisme, menurut Todenhöfer, berdiri di atas instrumen setan, tidak boleh dikaitkan dengan kesucian Tuhan dan keagamaan. Memang benar, di dalam Islam, Kristen, atau Yahudi ada ideologi teror - tapi bukan ajaran agamanya. Ideologi ini tidak mengantarkan mereka ke surga, tapi ke neraka.

7. Fakta atau Fake(Hoax)?

Kalimat andalan kritikus anti-Islam di barat: "Siapa yang menginginkan panggilan azan terdengar di kota-kota kami, harus membiarkan juga lonceng gereja berbunyi di kota-kota mereka!" Padahal nyatanya: Di Teheran, semisal, berdiri banyak gereja. Loncengnya berbunyi tidak jarang, dan tidak pelan. Lebih jauh, anak-anak kristen memiliki pelajaran agamanya sendiri (sesuatu yang lux untuk anak-anak muslim di Barat).

Barat megidentifikasi jilbab sebagai simbol pengekangan dan ketertindasan. Dari survey resmi, wanita-wanita pemakai jilbab, yang begitu 'dipedulikan' barat itu, justru berkata bukan pengekangan (tapi atas kesadaran pribadi). Sinisme jilbab, sebagian besar justru datang dari mereka yang tidak berjilbab dan anti-jilbab. Memaksa seseorang berjilbab, jelas menyalahi hak asasi. Tidak jauh berbeda, dari prosesi pemaksaan untuk melepasnya.

Barat menuduh perempuan-perempuan Islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia Islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%. Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%.

8. Seorang Muslim = Seorang Yahudi = Seorang Kristen

Tidak ada seorang bayi pun terlahir sebagai seorang teroris. Barat harus memperlakukan seorang Muslim, persis seperti seperti mereka memperlakukan seorang Kristen atau Yahudi.

Tidak jarang kita dengar politikus dan aktivis Barat, demonstratif, mengumbar kalimat penuh kebencian terhadap Islam. Frank Graham, penasehat George W. Bush, menyebut Islam sebagai "agama iblis dan sihir". Politikus kanan Belanda, Geert Wilders, menyebut Islam sebagai “agama fasis”. Thilo Sarrazin, politikus Jerman memberikan thesis: "secara genetis, anak-anak dari keluarga Islam, dilahirkan di bawah tingkat kecerdasan rata-rata.”

Bayangkan sejenak, jika Frank Graham, Greet Wilders, dan Thilo Sarrazin mengganti objek tesis-nya bukan kepada "Islam", tetapi menjadi "Yahudi" atau “Kristen”. Tidakkah ucapan seperti itu akan menjadi badai kemarahan yang dahsyat? Mengapa Barat boleh mengatakan hal-hal penuh fasistik dan rassist terhadap Islam, yang justru di kalangan orang-orang Kristen dan Yahudi sesuatu yang tabu? Barat harus mengakhiri demonisasi Islam dan Muslim.

9. Muslim Melawan Teror

Di tesis kesembilan, Todenhöfer mengajak umat Islam, melalui sebuah reformasi sosial, menjejak Nabi Muhammad yang berjuang untuk sebuah Islam yang beradab dan toleran. Untuk tatanan ekonomi dan politik yang dinamis, bukan statis – sambil mempertahankan identitas keagamaannya. Untuk persamaan yang penuh, pria dan wanita. Untuk kebebasan beragama yang nyata.

Tidak seperti politikus umumnya, Muhammad, bukan seorang reaksioner. Dia adalah seorang revolusioner, berani berpikir dan berani mematahkan belenggu tradisi. Islam di masa Muhammad bukanlah agama stagnan, apalagi regresif, tetapi pembaruan dan perubahan. Muhammad berjuang untuk perubahan sosial, ia pahlawan orang miskin dan orang lemah. Dia mengangkat hak-hak kaum perempuan, yang di periode sebelumnya nyaris tidak ada.

Muhammad bukan seorang fanatik atau seorang ekstrimis. Dia hanya ingin membawa orang-orang Arab, yang kala itu terjebak pada belenggu politeistik, untuk kembali ke sumber aslinya yang murni, agama Ibrahim, persis seperti yang disuarakan Musa dan Isa.

Terorisme, yang berada di sekelumit dunia Islam pada hari ini adalah distorsi ajaran Muhammad. Ini adalah kejahatan melawan Islam. Dunia Islam tidak boleh membiarkan citra baik Islam, yang dibangun Muhammad 14 abad yang lalu, dihancurkan seketika oleh ideologi kriminal ini. Dunia Islam perlu memerangi ideologi terorisme ini, persis seperti Muhammad memerangi berhala-berhala dari periode pra-Islam.

10. Politik Bukan Perang

Kalimat bijak pernah mengajarkan: "ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!"

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Sebuah visi akan sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan, bukan perang, apalagi penindasan.

-Ditulis oleh Yudi Nurul Ihsan-
(Mahasiswa Indonesia S3 di Jerman)